BRIN Perkenalkan Lima Inovasi Biosains untuk Dukung Industri
Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong hilirisasi hasil riset nasional dengan menyelenggarakan Temu Bisnis Biosains Terapan 2026, di Gedung B. J. Habibie, Jakarta, Kamis (26/2). Kegiatan ini mempertemukan para periset dengan mitra industri secara langsung.
Dalam temu bisnis tersebut, BRIN menawarkan lima inovasi unggulan, yakni teknologi feromon/bio-genol, teknologi pengencer sperma ternak, formula pakan ikan, minyak atsiri dan formulasi kosmetik, serta formulasi glutation berbasis limbah biomassa untuk kosmetik. Produk-produk ini masih terbuka untuk pengembangan lebih lanjut bersama mitra industri guna meningkatkan market readiness dan memperluas peluang komersialisasi.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, menyatakan pemerintah ingin membangun pola kemitraan yang lebih terbuka dan kolaboratif antara lembaga riset dan dunia usaha. Menurutnya, pada sesi dialog inovasi sebelumnya, pimpinan BRIN telah mendengarkan langsung berbagai masukan dari pelaku industri, mulai dari harapan, kritik, hingga kendala dalam implementasi kerja sama lisensi.
“Kami menyadari masalah yang dihadapi industri bukan hanya soal teknis produk, tetapi juga persoalan regulator. BRIN berkomitmen membantu mengurai hambatan terkait sertifikasi di kementerian teknis hingga pemenuhan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kami akan mengawal agar industri tidak kesulitan dalam mengimplementasikan hasil riset dan membawanya ke pasar,” tegas Hendrian.
Ia mengungkapkan, sejumlah industri mengusulkan adanya pengembangan lanjutan terhadap teknologi yang telah dilisensikan, termasuk fleksibilitas dalam skema kerja sama dan harga lisensi. Masukan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN agar proses hilirisasi tidak berhenti pada penandatanganan perjanjian, melainkan berlanjut pada pendampingan hingga tahap komersialisasi.
“Kami komit membantu Bapak dan Ibu sekalian melalui kontribusi inovasi. Jika ada kesulitan atau persoalan, sampaikan kepada kami. Pintu BRIN terbuka lebar untuk memfasilitasi kemajuan industri nasional,” tegas Hendrian.
Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Andes Hamuraby Rozak, menyampaikan kegiatan ini merupakan momentum penting untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan nyata industri. Pihaknya tidak hanya melakukan riset fundamental terkait eksplorasi dan discovery keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga mengembangkan riset terapan melalui empat pusat riset, yaitu botani terapan, mikrobiologi terapan, zoologi terapan, dan rekayasa genetika.
Sepanjang tahun sebelumnya, ORHL BRIN mencatat capaian sekitar 1.200 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) internasional serta lebih dari 600 HKI yang didaftarkan, mulai dari paten hingga hak cipta. Capaian tersebut mencerminkan produktivitas riset yang tinggi di lingkungan ORHL BRIN.
Namun, Andes menekankan perlindungan kekayaan intelektual harus diikuti dengan proses penyempurnaan, uji pasar, dan pengembangan bersama agar inovasi benar-benar siap dikomersialisasikan.
“ Co-creation dan co-development menjadi kunci. Industri memahami kebutuhan pasar, sementara kami memiliki sumber daya periset, fasilitas, dan dukungan pendanaan. Kolaborasi ini harus diperkuat agar inovasi lebih relevan dan memiliki kesiapan pasar yang baik,” pungkasnya. (kay/ed: tnt)




