Bybit Resmi Hadir di Indonesia, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Kripto Berkelanjutan
Sumber Foto: SWA.co.id
Ekonomi

Bybit Resmi Hadir di Indonesia, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Kripto Berkelanjutan

Fakta Baru - Industri cryptocurrency atau kripto kerap dipersepsikan serba cepat, volatil, dan penuh spekulasi. Namun bagi Lawrence Samantha yang dipercaya menduduki jabatan sebagai CEO Bybit Indonesia memilih berbicara tentang fondasi untuk membangun industri ini lewat edukasi, pengembangan talenta dan kepatuhan. Sebab masa depan kripto di Tanah Air bukan semata soal volume transaksi, melainkan tentang bagaimana membangun ekosistem yang matang dan berkelanjutan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor kripto per Januari 2026 telah menembus 20,19 juta orang, dengan total nilai transaksi aset digital sepanjang 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Angka tersebut menegaskan bahwa kripto bukan lagi ceruk kecil, melainkan bagian dari lanskap keuangan digital Indonesia yang terus membesar sejak regulasi pertama kali diperkenalkan pada 2018.

Di tengah pertumbuhan itu, kehadiran pemain global di Indonesia menjadi babak baru. Bybit yang merupakan exchange kripto asal Dubai, Uni Emirat Arab dengan volume perdagangan terbesar kedua di dunia resmi masuk ke Indonesia melalui akuisisi NOBI (PT Enkripsi Teknologi Handal), platform investasi aset kripto yang telah berizin dan diawasi OJK sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (PAKD). Akuisisi yang telah rampung ini menjadi fondasi kelahiran Bybit Indonesia.

Pengalaman Lawrence yang telah membesarkan NOBI sejak berdiri pada 2018 memberinya perspektif mendalam tentang perilaku investor lokal sekaligus kompleksitas regulasi yang terus berkembang.

“Kripto itu identik dengan teknologi baru dan inovasi anti-mainstream. Generasi muda di Indonesia kini sudah cukup fasih dengan itu. Apalagi Indonesia termasuk negara yang terbuka terhadap teknologi baru. Status kripto sebagai aset keuangan digital di Indonesia membuka ruang inovasi lebih luas bukan hanya dari sisi produk, tetapi juga dari sisi ekosistem,” ujar lulusan Computer Science & Engineering dari The Ohio State University tersebut pada siaran pers di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Dengan lebih dari 82 juta pengguna di 243 negara dan rata-rata volume perdagangan harian di atas US$22 miliar, Bybit membawa kekuatan global yang signifikan. Namun Lawrence menegaskan, pendekatan di Indonesia tidak akan sekadar menyalin template global. “Kita ingin masuk bukan cuma jualan. Kita ingin jadi player yang punya sumbangsih terhadap ekosistem,” katanya.

Saat ini, Bybit Indonesia masih berada dalam masa transisi dari NOBI. Aplikasi NOBI tetap berjalan normal, sembari tim mempersiapkan sistem, migrasi pengguna, dan koordinasi intensif dengan regulator. Adapun peluncuran resmi Bybit Indonesia ditargetkan pada kuartal kedua tahun ini, dengan proses migrasi yang memastikan pengguna lama dapat beralih secara mulus.

Fokus awalnya adalah memastikan investor dan trader yang sudah ada merasa semakin puas dan setia. Setelah itu, barulah ekspansi lebih luas baik ke segmen ritel, trader profesional, maupun institusional. Lawrence ingin menghadirkan pengalaman aplikasi yang intuitif, ringan, cepat, dengan likuiditas kuat yang selama ini menjadi kekuatan Bybit secara global.

Di luar produk, investasi terbesar justru diarahkan pada talenta lokal. “ Talent investment is market investment,” tegasnya. Menurutnya, membangun tim Indonesia yang memahami bahasa, budaya, dan dinamika pasar lokal akan menciptakan keunggulan yang sulit direplikasi kompetitor. Dengan dukungan sumber daya global Bybit, kombinasi ini diharapkan mempercepat adaptasi dan inovasi.

Industri kripto Indonesia, diakui Lawrence, masih sangat muda. Trader paling senior pun umumnya belum memiliki pengalaman lebih dari satu dekade. Dalam konteks inilah edukasi menjadi mandat strategis sekaligus kewajiban regulator. Sebagai entitas yang diawasi OJK, Bybit Indonesia memiliki target tahunan terkait edukasi dan inklusi keuangan.

Ia juga melihat regulasi bukan sebagai hambatan, melainkan fase “ soft landing ” menuju penegakan yang lebih tegas. Ia menyadari biaya kepatuhan tidak kecil, tetapi baginya itu adalah bare minimum. Lebih jauh, hubungan dialogis dengan regulator membuka ruang kolaborasi. Industri kripto global sendiri belum memiliki standar baku seperti sektor keuangan konvensional, sehingga regulator dan pelaku industri sama-sama belajar dan bertukar pandangan.

Dalam lima tahun ke depan, ia memprediksi struktur industri akan semakin matang, meski membutuhkan waktu. Perubahan regulasi dan penyesuaian model bisnis hampir pasti terjadi. Karena itu, Bybit Indonesia ingin aktif terlibat dalam proses edukasi bukan hanya kepada pengguna ritel, tetapi juga institusi, universitas, komunitas, dan pemangku kepentingan lain.

Pada akhirnya, pesan Lawrence untuk investor baik pemula maupun yang merasa sudah mahir cukup sederhana namun relevan, yakni never stop learning. “Dunia kripto bergerak cepat, dipengaruhi dinamika global, geopolitik, dan inovasi teknologi. Apa yang benar hari ini bisa berubah esok hari,” ungkapnya.

Bagi Bybit Indonesia, visi menjadi exchange kripto terdepan dengan memadukan kekuatan global dan talenta lokal, menghadirkan platform yang transparan, patuh regulasi, dan berorientasi pada kualitas diharapkan dapat terwujud. Di tengah euforia dan volatilitas, Lawrence optimistis untuk menciptakan fondasi agar industri kripto Indonesia tak sekadar tumbuh besar, tetapi juga tumbuh dewasa. (*)