China Luncurkan Rencana Lima Tahun: Menuju Ekonomi Mandiri dan Berbasis Teknologi Tinggi
Fakta Baru - China, serayunusantara.com – Pemerintah Republik Rakyat China secara resmi meluncurkan draf Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), sebuah cetak biru strategis yang menandai pergeseran fundamental dalam arah pembangunan negara tersebut.
Melalui visi ini, Beijing menegaskan ambisinya untuk bertransformasi dari raksasa manufaktur kuantitas menjadi “Ekonomi Benteng” (Fortress Economy) yang memprioritaskan kedaulatan teknologi dan keamanan energi di atas pertumbuhan konsumsi semata.
Dalam dokumen yang dipublikasikan selama pertemuan ‘Dua Sesi’ di Beijing, China menetapkan target pertumbuhan ekonomi (PDB) di kisaran 4,5% hingga 5,0% untuk tahun 2026, angka terendah sejak tahun 1991.
Penurunan target ini mencerminkan prioritas pada stabilitas dan keamanan nasional di tengah ketidakpastian dunia. Perdana Menteri China, Li Qiang, memberikan penekanan khusus pada tantangan eksternal yang dihadapi negaranya.
“Risiko geopolitik sedang meningkat,” tegas Li Qiang saat menyampaikan laporan kerja pemerintah di hadapan para pejabat tinggi sebagaimana dikutip dari Financial Times.
Fokus utama strategi ini adalah menghilangkan ketergantungan pada teknologi asing, terutama dalam sektor krusial seperti semikonduktor canggih (chip logika) dan Kecerdasan Buatan (AI).
Beijing berencana mengalihkan peran AI dari sekadar hiburan konsumen menjadi “tulang punggung industri” yang terintegrasi penuh ke dalam manufaktur dan logistik untuk mengatasi tantangan berkurangnya tenaga kerja.
Presiden China, Xi Jinping, menginstruksikan para pejabat di tingkat lokal untuk segera melakukan reformasi struktural demi memuluskan jalan bagi inovasi ini.
“Pemerintah daerah harus mempelajari situasi baru, menyelesaikan masalah baru, dan menghapus hambatan institusional serta struktural yang membatasi kekuatan produktif kualitas baru,” ungkap Xi Jinping saat berbicara kepada delegasi Jiangsu sebagaimana dikutip dari kantor berita Xinhua.
Di sektor energi, China mengumumkan rencana aksi ambisius untuk menggandakan pasokan energi non-fosil dalam waktu 10 tahun. Strategi ini mencakup pembangunan basis energi bersih raksasa di wilayah gurun utara serta kompleks hidro-angin-surya terintegrasi di barat daya China. Meski demikian, China tetap mempertahankan batu bara sebagai “pemberat” (ballast) strategis untuk menjamin keamanan jaringan listrik nasional.
Yao Zhe, penasihat kebijakan global di Greenpeace East Asia, menyoroti pentingnya pasokan energi bersih ini dalam mencapai target iklim.
“Seberapa cepat intensitas karbon berkurang sangat bergantung pada berapa banyak energi terbarukan yang dapat dipasok,” ujar Yao Zhe sebagaimana dikutip dalam pernyataan resmi kepada Carbon Brief.
Secara diplomatis, China memposisikan diri untuk terus mendominasi rantai pasok teknologi bersih global, seperti panel surya (PV) dan kendaraan listrik (EV). Beijing tidak menganggap kapasitas produksi yang besar sebagai masalah “kelebihan kapasitas,” melainkan sebagai keunggulan strategis. Dr. Rebecca Nadin, direktur Centre for Geopolitics of Change di ODI Global, memberikan analisisnya mengenai langkah China ini.
“Beijing siap menggelontorkan investasi ke sektor-sektor ini untuk memperkuat pangsa pasar global, lapangan kerja, dan pengaruh teknologi,” jelas Dr. Rebecca Nadin kepada Carbon Brief. (Ha/serayu)




