Enam Fakta Menarik tentang Rempah Pala Khas Papua
Sumber Foto: Hypeabis
Fakta Segar

Enam Fakta Menarik tentang Rempah Pala Khas Papua

Rempah-rempah Indonesia telah lama menjadi incaran berbagai negara di dunia, salah satunya adalah biji pala. Pala dapat ditemukan di kawasan Indonesia bagian timur, seperti Pulau Banda di Maluku dan Fakfak di Papua. Meskipun berasal dari daerah yang sama, pala dari Maluku dan Papua memiliki perbedaan yang mencolok, baik dari segi bentuk maupun rasa.

Pala khas Maluku umumnya berbentuk bulat, sementara pala dari Papua berbentuk lonjong dan berukuran lebih besar. Rasa pala Papua cenderung lebih manis, sehingga sering digunakan sebagai pengganti jeruk oleh masyarakat setempat.

Berikut enam fakta menarik mengenai pala khas Papua yang perlu diketahui:

1. Sumber Penghidupan Masyarakat

Pohon pala memiliki makna penting dalam kebudayaan masyarakat Fakfak. Pala dijadikan lambang Kabupaten Fakfak, yang mencerminkan jati diri masyarakat lokal. Untuk melestarikan pohon pala, diperlukan regulasi yang mendukung penanaman kembali dan menjadikan beberapa lokasi sebagai area pelestarian, mirip dengan hutan lindung di pusat kota.

2. Komoditas Bernilai Tinggi

Sebelum Indonesia merdeka, pala sudah dianggap sebagai komoditas bernilai tinggi oleh bangsa-bangsa asing. Masyarakat Fakfak telah menjalin hubungan perdagangan biji pala sejak zaman kolonial Belanda. Saat ini, pala mulai dikenal sebagai komoditas unggulan dengan nilai ekonomi yang menjanjikan, meskipun sistem penjualannya yang kini berdasarkan pohon dianggap merugikan petani.

3. 'Bank Hidup' untuk Memenuhi Kebutuhan

Pala khas Papua dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi petani, dengan panen yang dilakukan dua kali setahun. Meskipun ada kemungkinan musim panen tambahan, pala sering dijadikan dana cadangan yang mendukung pendapatan harian dari pekerjaan lain, seperti nelayan. Pala dijual dalam bentuk segar maupun kering, yang kemudian dikirim ke berbagai daerah seperti Surabaya dan Sulawesi.

4. Penjaga Lingkungan dari Bencana

Pohon pala memiliki kelebihan dalam pertumbuhannya tanpa memerlukan pupuk atau perawatan khusus. Usianya dapat mencapai ratusan tahun dan mampu berbuah dari generasi ke generasi. Bentuk batangnya yang tidak besar namun memiliki akar yang kuat menjadikan pohon pala berperan penting dalam mencegah banjir dan longsor, sekaligus memberikan naungan bagi tanaman lainnya.

5. Bagian dari Budaya

Pala juga memiliki peran penting dalam budaya masyarakat Papua, terutama di Fakfak. Tradisi mengikat pohon pala dengan kain putih saat panen melambangkan ungkapan syukur. Selain itu, masyarakat juga membersihkan area di sekitar pohon dari gulma menjelang panen, menggunakan pisau yang telah diupacarakan dalam prosesi khusus.

6. Proses Budidaya dalam Jangka Panjang

Budidaya pala telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu, dimulai dari penyemaian oleh burung-burung. Dalam satu dekade terakhir, masyarakat mulai membudidayakan pala dengan menanamnya di lahan kosong atau merestorasi lahan yang tidak produktif. Selain penanaman, masyarakat juga mengolah pala menjadi berbagai produk, seperti minyak asiri, manisan, selai, sirop, dan aromaterapi.