Film 'Glory' Karya Denzel Washington Kembali Memukau di Netflix Usai 36 Tahun
Film epik perang Glory, yang mengantarkan Denzel Washington meraih piala Oscar pertamanya pada tahun 1989, masih memancarkan daya tariknya 36 tahun setelah perilisannya. Kini, para penikmat film di Indonesia dapat menyaksikan kembali performa memukau Washington melalui layanan streaming Netflix.
Malcolm McMillan, Editor Streaming di Tom’s Guide, baru-baru ini menyoroti film ini dalam proyek pribadinya yang disebut “Denzel Watchathon”. Dalam proyek tersebut, McMillan berkomitmen menonton satu dari 52 film Denzel Washington setiap minggu sepanjang tahun 2026, sebuah ide yang terinspirasi dari unggahan Brooklyn White-Grier, penulis senior di The New York Times. Menurut McMillan, Glory menjadi “titik tertinggi” dan “pencapaian besar pertama” dalam karier Denzel yang ia saksikan sejauh ini.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Kisah Resimen Kulit Hitam Pertama dalam Perang Saudara Amerika
Glory mengisahkan tentang Resimen Infanteri Massachusetts ke-54, resimen militer kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang bertempur di Perang Saudara. Film ini secara indah menggambarkan perjuangan dan keberanian para prajurit kulit hitam yang berjuang untuk negara yang, pada saat itu, masih meragukan keberadaan mereka.
Denzel Washington memerankan karakter Trip, seorang mantan budak yang bergabung dengan resimen tersebut. Trip digambarkan sebagai sosok yang skeptis terhadap perjuangan Union, seringkali menyuarakan realitas pahit menjadi seorang prajurit kulit hitam yang berjuang untuk negara yang mungkin tidak menginginkannya. Penampilannya dalam film ini diakui sangat layak mendapatkan Oscar.
Performa Ikonik dan Momen Tak Terlupakan
McMillan menilai, meskipun Glory menampilkan jajaran aktor kulit hitam yang luar biasa seperti Morgan Freeman (John Rawlins) dan Andre Braugher (Thomas Searles), Denzel Washington-lah yang berhasil mencuri perhatian dengan momen-momen ikoniknya. Salah satu adegan paling menyentuh adalah saat Trip dicambuk karena desersi, di mana ia menatap tajam tanpa membiarkan air mata jatuh, sebuah adegan yang membuat penonton tidak bisa berpaling.
Selain itu, Trip juga menjadi sosok yang menggalang protes ketika para prajurit kulit hitam diberitahu bahwa mereka akan dibayar lebih rendah dari prajurit kulit putih. Puncaknya, dalam sebuah adegan krusial, ia menolak untuk membawa bendera resimen, dengan tegas menyatakan, “ I won’t carry your flag,” menekankan kata “ your ” sebagai bentuk penolakannya terhadap sistem yang diskriminatif.
Karakter Trip mencapai puncaknya dalam pertempuran klimaks di Fort Wagner, Carolina Selatan. Momen tersebut, menurut McMillan, “membuatnya merinding” dan menegaskan mengapa Denzel Washington dinominasikan untuk Aktor Pendukung Terbaik.
Kritik dan Warisan Abadi
Meskipun dipuji karena sinematografi yang indah dan penampilan akting yang luar biasa, Glory memiliki satu kekurangan utama. Film ini sebagian besar memilih untuk memusatkan ceritanya pada seorang kolonel kulit putih, Robert Gould Shaw, yang diperankan oleh Matthew Broderick, sebuah pilihan pemeran yang dinilai kurang tepat oleh McMillan.
Terlepas dari kritik tersebut, Glory tetap menjadi film perang yang mengesankan dan relevan hingga kini. Catatan Mureks menunjukkan bahwa film ini berhasil memadukan aksi fisik dengan kedalaman emosional, membuat penonton merasakan berbagai emosi saat menyaksikannya. Kemenangan Oscar pertama Denzel Washington untuk perannya sebagai Trip adalah bukti nyata dari kekuatan aktingnya yang tak terbantahkan, menjadikan Glory sebuah tontonan wajib bahkan hampir empat dekade setelah perilisannya.




