Film Raja Alam Dukung Promosi Pariwisata dan Kebudayaan Berau
Sumber Foto: A News ID
Hiburan

Film Raja Alam Dukung Promosi Pariwisata dan Kebudayaan Berau

Fakta Baru - TANJUNG REDEB – Rencana produksi film Raja Alam yang bertema kebudayaan mendapat sinyal positif dari Ketua Bapelitbang Berau, Endah Ernany Triariani. Ia menilai gagasan tersebut sejalan dengan arah pembangunan daerah, khususnya dalam penguatan sektor pariwisata dan kebudayaan.

Menurutnya, dalam dokumen perencanaan jangka panjang daerah, pengembangan pariwisata telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas utama. Hal ini tertuang dalam visi pembangunan Berau 2025–2029 yang menekankan kemajuan daerah secara berkelanjutan, makmur, dan sejahtera.

“Penguatan pariwisata menjadi prioritas pembangunan, termasuk dukungan terhadap kebudayaan dan ekonomi kreatif masyarakat. Secara substansi, film bisa menjadi media promosi yang kuat,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Endah menjelaskan, produksi film bukan sekadar karya seni, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkenalkan potensi daerah. Dengan kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki Berau, film dinilai mampu menjadi jembatan promosi yang efektif, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ia menambahkan, dalam misi pembangunan daerah, penguatan UMKM dan sektor ekonomi kreatif juga menjadi bagian penting. Produksi film dinilai dapat memberikan efek berganda, mulai dari pelibatan pelaku seni lokal, pelaku UMKM, hingga sektor jasa pendukung lainnya.

“Ketika budaya diangkat melalui media kreatif seperti film, dampaknya tidak hanya pada citra daerah, tetapi juga pada pergerakan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Endah juga menyebutkan bahwa dukungan terhadap kebudayaan telah masuk dalam program prioritas pemerintah daerah. Oleh karena itu, secara konsep, gagasan pembuatan film memiliki landasan yang kuat dalam visi dan misi pembangunan.

Namun ia tetap mengingatkan, agar dukungan tersebut dapat direalisasikan, prosesnya harus mengikuti tahapan perencanaan dan penganggaran yang berlaku.

“Kami melihat ini sebagai bagian dari penguatan identitas daerah. Tinggal bagaimana dikawal bersama agar bisa masuk dalam dokumen perencanaan,” pungkasnya. (Ta)