Ikan Tongkol dan Tembang Tidak Menjadi Penyebaran Penyakit Baru
Sumber Foto: Pikiran Rakyat Pangandaran
Fakta Segar

Ikan Tongkol dan Tembang Tidak Menjadi Penyebaran Penyakit Baru

Baru-baru ini, beredar informasi di media sosial yang mengklaim bahwa ikan tongkol dan tembang menjadi penyebaran penyakit baru. Dalam narasi yang dibagikan oleh akun Facebook Nona Radja pada 4 Januari 2021, masyarakat dihimbau untuk menghentikan konsumsi kedua jenis ikan tersebut demi keselamatan.

Namun, setelah dilakukan penelusuran oleh Tim PikiranRakyat-Pangandaran.com, klaim tersebut tidak sepenuhnya benar. Kabar tersebut muncul setelah terjadinya kasus keracunan ikan tembang di Kecamatan Kodi Blaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal yang sama. Dalam insiden tersebut, satu orang dilaporkan tewas dan 12 lainnya mengalami gejala kritis setelah mengonsumsi ikan yang diduga terkontaminasi.

Kejadian keracunan ini bermula ketika seorang warga, Hendrikus Ndara Milla, membeli 40 ikan tembang dari seorang pedagang dan membagikannya kepada anggota keluarga. Kasus ini mengingatkan pada insiden sebelumnya di Jember, di mana 350 orang mengalami keracunan setelah menyantap ikan tongkol saat perayaan Tahun Baru 2020.

Menurut Plt Kepala Dinas Perikanan Jember, Murtadlo, keracunan ikan tongkol tersebut disebabkan oleh proses penyimpanan yang tidak sesuai prosedur, yang menyebabkan peningkatan kandungan histamin pada ikan. Histamin adalah zat kimia yang dapat menyebabkan keracunan makanan jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

American Academy of Allergy Asthma and Immunology menjelaskan bahwa keracunan histamin adalah salah satu bentuk keracunan makanan yang dapat terjadi pada beberapa jenis ikan, termasuk tongkol dan tembang, terutama jika ikan tersebut disimpan di atas suhu 6 derajat Celcius untuk waktu yang lama.

Dengan demikian, klaim bahwa ikan tongkol dan tembang menjadi penyebaran penyakit baru adalah tidak benar. Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dalam memilih dan mengolah ikan serta memperhatikan cara penyimpanannya untuk mencegah risiko keracunan.