Impor 105 Ribu Kendaraan dari India Dianggap Ancam Industri Otomotif Nasional
Industri otomotif nasional mengalami kontraksi cukup dalam dalam setahun terakhir. Sepanjang 2025, penjualan mobil nasional melemah dengan total wholesales mencapai 803.687 unit, turun 7,2% dibanding 2024 yang tercatat 865.723 unit. Pelemahan ini diperkirakan berlanjut hingga semester I/2026.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah melalui BUMN pangan Agrinas berencana melakukan impor 105 ribu unit kendaraan dari India. Impor ini disebut untuk kebutuhan Koperasi Merah Putih di daerah.
Gaikindo: Industri lokal mampu, tapi perlu waktu
Menanggapi rencana impor kendaraan dari India, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyatakan Gaikindo meyakini perusahaan kendaraan bermotor di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun membutuhkan waktu yang memadai untuk mengejar jumlah dan spesifikasinya.
”Sebenarnya anggota Gaikindo dan juga industri-industri pendukungnya, di antaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM (Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor) mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” ungkap Putu Juli, Jumat (20/2/2026).
Ia menambahkan, bila diberi kesempatan dan waktu yang memadai, anggota Gaikindo dan GIAMM diharapkan dapat ikut berpartisipasi memenuhi kebutuhan kendaraan komersial tersebut.
Harapannya, langkah ini dapat mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi risiko pengurangan tenaga kerja, yang berpotensi meningkat karena penurunan permintaan domestik dalam beberapa tahun terakhir.
Gaikindo juga menyoroti bahwa dalam beberapa tahun belakangan penjualan kendaraan bermotor domestik berada di bawah 1 juta unit per tahun. Pada saat yang sama, ekspor kendaraan bermotor Indonesia ke 93 negara disebut dapat mencapai lebih dari 518.000 unit.
Saat ini Gaikindo beranggotakan 61 perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi sekitar 2,5 juta unit kendaraan roda empat atau lebih. Untuk segmen kendaraan komersial kelas menengah ke bawah (pick-up), Gaikindo menyebut produksi selama ini dilakukan oleh beberapa anggota, yakni:
PT Suzuki Indomobil Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Astra Daihatsu Motor.
Gaikindo menyatakan, secara keseluruhan kapasitas produksi kendaraan pick-up para anggota tersebut mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
Mayoritas kendaraan yang diproduksi adalah berpenggerak 4x2 dan telah memiliki TKDN lebih dari 40%. Menurut Putu Juli, kendaraan komersial 4x2 tersebut selama ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga pelosok, salah satunya karena dukungan jaringan servis purna jual yang luas. Sementara untuk kendaraan 4x4, Gaikindo menyebut bisa diproduksi, namun memerlukan waktu untuk persiapan.
“Hal ini juga berkat dukungan jaringan servis bengkel pelayanan purna jual yang tersebar cukup luas. Sedangkan untuk kendaraan jenis penggerak 4x4 juga dapat diproduksi, namun memerlukan waktu untuk persiapan produksinya,” ucapnya.
Menperin: dampak ekonomi produksi domestik signifikan
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan penguatan produksi kendaraan pick-up dalam negeri memiliki dampak ekonomi signifikan. Ia memberi ilustrasi: jika pengadaan kendaraan pick-up (4x2) sebanyak 70.000 unit dipenuhi produk domestik, maka dapat memberi dampak ekonomi (backward linkage) sekitar Rp27 triliun.
“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri,” ujar Agus dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Agus menjelaskan, industri otomotif nasional saat ini disebut memiliki kemampuan produksi kendaraan pick-up dengan kapasitas sekitar 1 juta unit per tahun. Produsen pick-up yang disebut antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.
“Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick-up nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global,” tegas Menperin.
Lebih lanjut, Agus menyampaikan standar dan kualitas pick-up 4x2 produksi dalam negeri dinilai kompetitif dibanding produk impor, serta telah mampu digunakan di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi infrastruktur jalan yang beragam. Ia juga menilai kendaraan niaga produksi dalam negeri telah diterima pelaku usaha karena performanya andal untuk distribusi dan mobilitas barang.
Namun, Agus mengakui Indonesia belum memproduksi tipe pick-up dengan spesifikasi 4x4 yang dirancang khusus untuk medan sangat berat, terutama untuk wilayah tambang dan perkebunan.
Ia menambahkan, dari sisi efisiensi ekonomi, biaya perawatan pick-up 4x4 relatif lebih mahal, suku cadang dan layanan purna jual lebih terbatas, serta harga jual kembali lebih rendah dibanding pick-up 4x2 yang telah diproduksi industri nasional. (*)




