Impor Mobil India Dikhawatirkan Ancam Industri Otomotif Lokal
Jakarta – Rencana impor 105 ribu mobil dari India senilai Rp 24,66 triliun untuk Koperasi Merah Putih menuai sorotan tajam dari DPR. Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap rencana tersebut.
Gobel menilai, impor mobil dalam jumlah besar akan mengancam industri otomotif nasional dan menghambat penciptaan lapangan kerja.
“Rencana impor mobil secara besar-besaran ini dengan menggunakan dana BUMN sama sekali tak mendukung Astacita, bahkan melanggar Astacita. Karena menghamburkan dana negara untuk membiayai tenaga kerja asing dan industri negara lain,” tegas Gobel, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, kebijakan fiskal dan peran BUMN seharusnya menjadi instrumen untuk menggerakkan industri domestik dan menyerap tenaga kerja, terutama lulusan pendidikan vokasi di sektor otomotif.
Gobel juga menyoroti kemampuan industri otomotif Indonesia yang telah berkembang dengan jaringan produksi dan layanan yang luas, serta peningkatan kandungan lokal. Ia menegaskan, industri dalam negeri mampu memproduksi mobil pick-up secara mandiri.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR, Evita Nursanty, mengingatkan pentingnya penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan kendaraan untuk Koperasi Merah Putih.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, juga telah menegaskan bahwa Indonesia mampu memproduksi kendaraan pick-up secara mandiri.
Menperin menyatakan, jika pengadaan 70.000 unit kendaraan pick-up dipenuhi dari produksi dalam negeri, dampaknya terhadap ekonomi mencapai sekitar Rp 27 triliun.
Gobel menambahkan, “Para pembantu presiden harus menerjemahkan dan menjalankan dengan benar cita-cita Presiden, yaitu Astacita, konsep Prabowonomics, dan Sumitronomics.”
Rencana impor ini dinilai bertentangan dengan agenda prioritas pemerintah, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat industrialisasi nasional.




