Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions Setelah Kalah dari Bodo/Glimt
PERJALANAN Inter Milan di Liga Champions berakhir setelah kalah 1-2 di kandang dari Bodo/Glimt di Giuseppe Meazza pada Rabu dinihari, 25 Februari 2026. Inter kalah agregat 2-5 pada babak playoff. Lantas, mengapa finalis musim lalu itu kesulitan menghadapi tim Norwegia yang relatif kurang jauh dari status unggulan?
Inter sudah berada dalam posisi sulit pada leg kedua setelah kalah 1-3 dari Bodo/Glimt di Norwegia pekan lalu. Hasil tersebut membuat mereka membutuhkan kemenangan dengan selisih tiga gol untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, tim asuhan Cristian Chivu justru kembali kalah 1-2 di kandang. Jens Petter Hauge dan Hakon Evjen membawa Bodo unggul 2-0 pada babak kedua, sebelum gol hiburan bek Inter Alessandro Bastoni pada menit ke-70.
Sebagian besar kegagalan Inter lolos ke babak 16 besar tak lepas dari kekalahan mereka pada leg pertama. Banyak faktor yang disorot, termasuk lapangan sintetis dan suhu di bawah nol derajat di Aspmyra Stadion yang terletak di wilayah lingkar Arktik.
Selain itu, seperti dikutip dari Football Italia, muncul pertanyaan terkait pilihan susunan pemain Cristian Chivu pada leg pertama. Ia mengistirahatkan Marcus Thuram dan Federico Dimarco demi menjaga kebugaran untuk laga Serie A melawan Lecce, saat Inter sudah unggul tujuh poin di puncak klasemen. Namun, Nerazzurri justru gagal mengatasi tim asal Norwegia tersebut.
Absennya pemain dan performa bintang menurun
Alasan yang paling jelas adalah absennya sejumlah pemain kunci. Kapten sekaligus top skor Lautaro Martinez mengalami cedera pada leg pertama, Hakan Calhanoglu absen di kedua laga, sementara Denzel Dumfries hanya cukup fit untuk tampil sekitar 10 menit pada leg kedua.
Beberapa pemain bintang lain, terutama Nicolo Barella, juga mendapat kritik karena performa yang menurun dalam beberapa pekan terakhir, termasuk pada laga melawan Bodo/Glimt. Media Italia bahkan menyebut Barella sebagai masalah karena kontribusi golnya dinilai terus menurun dari tahun ke tahun.
Gagal menembus pertahanan rapat
Dari sisi permainan, Inter sebenarnya mendominasi selama satu jam pertama leg kedua. Mereka mencatat 23 tembakan, 10 tendangan sudut, serta 45 serangan dibandingkan tujuh milik Bodo/Glimt.
Namun, Inter esulitan menghadapi tim yang menempatkan hampir seluruh pemain di belakang bola dengan blok pertahanan rendah. Inter dinilai perlu bermain lebih cepat dan tajam dalam pergerakan serta umpan di sepertiga akhir lapangan.
Meski mencatat total 33 tembakan sepanjang laga, hanya enam yang tepat sasaran. Sebagai perbandingan, Bodo/Glimt mencatat lima tembakan tepat sasaran dari tujuh percobaan.
Cristian Chivu mengaku kecewa setelah timnya tersingkir dari Liga Champions. “Kami kecewa, baik karena kekalahan maupun karena tersingkir. Mungkin jika kami mencetak gol pertama, kami bisa memberi tekanan kepada mereka. Mereka bertahan dengan sangat baik dan mampu mengontrol ruang. Kami kehabisan tenaga pada babak kedua, lalu kebobolan dua gol. Selamat kepada mereka,” kata Chivu seperti dikutip dari UEFA.
Perbedaan tempo permainan
Pertanyaan juga muncul soalkemampuan Inter mengikuti tempo dan intensitas permainan tim-tim Eropa. Mantan pelatih Fabio Capello menilai klub Italia cenderung bermain dengan tempo lambat.
Menurut Capello, tim Italia kesulitan menghadapi lawan yang mengandalkan pressing dan kecepatan karena tidak terbiasa bermain dalam tempo tinggi. Bodo/Glimt tampil kompak dalam bertahan, tetapi sangat cepat saat transisi, terutama melalui Patrick Berg, Hauge, dan Ole Didrik Blomberg. “Kita tidak terbiasa bermain agresif. Begitu mereka meningkatkan tempo di Serie A, mereka dihentikan karena tekel terlalu keras dan mereka jatuh. Ini adalah hasilnya,” kata Capello.
Capello menilai masalah ini tidak hanya dialami Inter, tetapi sepak bola Italia secara umum. Ia menyebut tim Italia kurang agresif dan kesulitan menciptakan ancaman ketika pertandingan berlangsung dalam tempo cepat. “Sayangnya, kita bermain dengan tempo lambat, dan ketika itu terjadi, sulit untuk tampil berbahaya,” ucap dia.




