Lee Sang-il: Sutradara Kokuho yang Menghidupkan Seni Kabuki
Film Kokuho yang mulai tayang sejak tanggal 18 Februari 2026 lalu sampai saat ini masih dapat dinikmati di Bioskop Tanah Air. Kalau dari saya sendiri sangat menyarankan untuk menonton film ini, apalagi film Kokuho juga masuk nominasi Academy Awards ke-98 (Oscar 2026) untuk kategori Best Makeup and Hairstyling.
Berkat nonton film ini, saya jadi dapat pengetahuan berharga untuk sejarahnya Kabuki yang konon dimulai sejak zaman Edo oleh Izumo no Okuni, seorang gadis kuil. Sejak itu Kabuki menjadi sangat popular dan banyak dipentaskan oleh para wanita. Sejak saat itulah juga melekat kesan bahwa wanita pemeran kabuki adalah wanita penghibur. Oleh karena itu, sejak tahun 1629 wanita dilarang mementaskan kabuki dan hanya boleh pria dewasa yang memerankan seluruh tokoh dalam cerita kabuki. Tokoh wanitanya disebut dengan Onnagata dan tokoh laki-lakinya disebut sebagai Tachiyaku.
Singkatnya film ini menceritakan ada seorang anak Yakuza bernama Kikuo yang menekuni seni Kabuki dan berbakat dalam memerankan tokoh wanita (Onnagata) dalam cerita kabuki. Suatu hari takdir membawanya untuk dilatih oleh seorang pemain kabuki terkenal yang juga memiliki anak lelaki yang seumuran dengan Kikuo bernama Shunsuke. Keduanya dilatih keras oleh ayah Shunsuke sampai akhirnya mereka debut sebagai Onnagata Duo. Selama 3 jam kita akan disuguhkan dengan kehidupan mereka yang naik dan turun, penuh emosi dalam 5 periode. Dari sinilah saya merasakan ternyata untuk memerankan kabuki sangatlah sulit, penuh disiplin, keras dan juga banyak yang harus dikorbankan. Saya pun penasaran siapakah maestro di balik ini semua? Kokuho menyajikan kisah yang mendalam dan tentunya jadi membuka wawasan mengenai seni tradisional teater kabuki Jepang.
Ternyata oh ternyata, film Kokuho ini disutradarai oleh Lee Sang-il, seorang pembuat film berdarah korea namun dengan spesialisasi pembuat film Jepang. Rupanya beliau lahir di Niigata, Jepang dan menjadi salah satu dari generasi ketiga Zainichi Korean atau keturunan orang Korea yang berimigrasi ke Jepang sebelum tahun 1945 atau pada saat perang dunia ke-2 dan menjadi penduduk tetap di Jepang.
Film Kokuho sendiri menjadi filmnya yang ke-10 yang mendapatkan penghargaan Akira Kurosawa pada event Tokyo International Film Festival tahun 2025. Kalau ditilik lebih jauh, film Kokuho ini diadaptasi dari novel karya Shuichi Yoshida yang terbit tahun 2018. Lee Sang-il sendiri sebelumnya juga pernah membuat film dari novel Shuichi Yoshida yang berjudul Villain tahun 2010.
Menariknya, Lee Sang-il pernah mengemukakan 15 tahun yang lalu kepada Shuichi Yoshida bahwa ia tertarik dengan seni kabuki ini, yang kemudian melalui riset mendalam dan akhirnya dituliskan dalam novel berjudul Kokuho. Tidak hanya itu, dalam eksekusi film Kokuho ini pun, tokoh Kikuo yang diperankan oleh Ryo Yoshizawa harus berlatih intens selama 1,5 tahun untuk mempelajari gerakan-gerakan untuk menjadi seorang Onnagata. Ryo sendiri mengakui untuk belajar teknik berjalan saja butuh waktu 3-4 bulan, teknik berjalan ini dinamakan Suriashi. Pantas saja saat saya melihat adegan kabuki dalam film, saya membayangkan betapa sulitnya berjalan tanpa hambatan, elegan dan dengan kostum kabuki yang kompleks.
Saya dapat merasakan bahwa film ini dibuat dengan riset mendalam, sejalan dengan apa yang dirasakan mungkin oleh sebagian besar penonton, dalam wawancaranya Lee Sang-il menyatakan bahwa menonton para aktornya bermain kabuki adalah salah satu cita-citanya dan dapat menyampaikan perasaan dalam kehidupan yang dijalani oleh masing-masing aktor kabuki. Ia berusaha untuk melakukan riset mendalam terhadap kabuki, seluruh detail, latihan ketat 1,5 tahun untuk aktornya dan juga dalam mempersiapkan set panggung kabuki. Lee Sang-il membuat 3 POV penting, pertama sudut pandang aktor kabuki ke penonton, kedua suduh pandang penonton ke arah panggung dan ketiga adalah close-up ke aktor secara detail (baik dari make up, kostum, gestur dan ekspresi) saat memainkan cerita di kabuki, sampai dapat menangkap ekspresi kelelahan, kecemasan, rasa gugup dan rasa sakit, hanya melalui pandangan dan beberapa tatapan mata antar aktor.
Melalui film Kokuho, Lee Sang-il berharap bahwa ada pesan yang tersampaikan kepada seluruh penonton, bahwa hidup menjadi aktor kabuki tidaklah mudah, ada pertunjukan kehidupan lewat cerita depan panggung dan ada bayangan kehidupan asli di baliknya yang merupakan kerja keras dan pengorbanan dari aktor kabuki untuk mencapai posisi yang tertinggi. Sebagaimana seperti maknanya, Kokuho sendiri artinya adalah " National Treasure" atau harta nasional yaitu film dengan cakupan yang mengagumkan dan keindahan yang megah, serta sebuah monumen bagi para seniman yang rela mengorbankan segalanya demi penampilan terbaik.




