Majelis Ngaji Jombang: Kritisi Komersialisasi Ramadan dan Kesadaran Konsumsi
Fakta Baru - JOMBANG, KabarJombang.com – Komersialisasi Ramadan oleh industri pangan dan platform digital menjadi sorotan dalam Majelis Ilmu Ngaji Bareng Ramadan 1447 H yang digelar di Mushola Al-Fath, Jagalan, Kepatihan, Jombang, Jumat (27/2/2026).
Dalam forum tersebut, Ustadz Achmad Saifullah Syahid menilai fenomena konsumsi berlebihan saat berbuka puasa bukan semata-mata persoalan lemahnya pengendalian diri individu. Ia menyebut, kondisi itu tidak bisa dilepaskan dari sistem distribusi pangan dan ekosistem digital yang dirancang untuk mengkapitalisasi momentum bulan suci.
“Ramadan telah menjadi pasar. Industri makanan memahami bahwa orang yang lapar seharian adalah konsumen paling rentan. Algoritma media sosial memperburuk situasi dengan terus menyajikan konten makanan yang memicu hasrat visual jauh sebelum azan Magrib,” ujar pria yang akrab disapa Cak Saiful tersebut.
Menurutnya, arsitektur digital saat ini secara aktif membentuk dan memperkuat dorongan konsumsi. Berbagai promosi, rekomendasi otomatis, hingga notifikasi diskon dinilai menciptakan rasa “kurang” yang terus diproduksi secara sistematis.
“Kita hidup dalam sistem yang membuat ‘cukup’ terasa tidak pernah benar-benar cukup. Algoritma dirancang untuk memunculkan makanan yang belum kita pesan, promo yang belum kita klaim, dan pilihan yang belum kita coba. Ini bukan sekadar soal nafsu, melainkan desain sistem yang bekerja menciptakan hasrat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi pangan. Di satu sisi, sebagian masyarakat terdorong membeli makanan secara berlebihan akibat promosi agresif dan visualisasi yang menggugah selera. Di sisi lain, masih ada warga yang kesulitan mengakses pangan layak untuk berbuka. Setiap Ramadan, volume sampah makanan di berbagai kota pun cenderung meningkat, sementara industri terus memproduksi paket takjil dan menu buka puasa dalam skala besar yang mendorong pembelian impulsif.
Ustadz Achmad Saifullah Syahid menegaskan, kesadaran konsumsi di bulan Ramadan tidak boleh berhenti pada imbauan moral personal. Ia mendorong lahirnya sikap kritis terhadap sistem yang memproduksi pemborosan tersebut.
“Puasa seharusnya menjadi latihan melawan bukan hanya lapar, tetapi juga melawan desain sistem yang mendorong kita membeli lebih, memesan lebih, dan membuang lebih. Ramadan adalah momentum membangun kesadaran itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, forum keagamaan seperti majelis ngaji semestinya menjadi ruang membangun kesadaran struktural, bukan sekadar menyampaikan pesan moral yang berhenti pada individu.
“Majelis ilmu harus berani berbicara tentang sistem—tentang bagaimana pasar bekerja di bulan Ramadan, bagaimana platform digital merancang kecanduan, dan bagaimana umat bisa mengambil sikap lebih kritis serta berdaulat sebagai konsumen,” imbuhnya.
Ia pun mengajak jamaah melakukan refleksi diri dan perubahan sikap nyata. Tanpa kesadaran kritis, menurutnya, Ramadan akan terus menjadi musim panen bagi industri makanan dan platform digital.
“Jika Ramadan hanya menjadi ritual tahunan tanpa perubahan cara pandang, kita akan merasa cukup beriman tanpa pernah benar-benar mengubah apa pun. Ramadan harus menjadi titik balik, bukan sekadar titik ulang,” pungkasnya.




