Palm Kernel Expeller: Komoditas Unggulan untuk Pakan Ternak Indonesia
Fakta Baru - Jakarta, HAISAWIT – Palm Kernel Expeller (PKE) atau Bungkil Inti Sawit (BIS) kini menjadi primadona ekspor yang dihasilkan dari proses ekstraksi minyak inti sawit di berbagai pabrik pengolahan kelapa sawit Indonesia.
Ampas padat ini terbentuk setelah inti sawit melewati mesin pengepresan mekanis untuk diambil minyaknya. Produk tersebut berbentuk butiran kasar dengan warna cokelat kemerahan yang mengandung nutrisi penting bagi sektor peternakan.
Dilansir dari laman GAPKI, Minggu (01/03/2026), volume produksi PKE dapat mencapai angka 45–46% dari total berat inti sawit yang diolah, dengan kandungan protein kasar minimal berada pada rentang 14–16%.
Data teknis juga menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki kadar air maksimal sebesar 12%. Selain itu, kandungan lemak maksimal dibatasi pada angka 10% guna menjaga kualitas produk selama masa penyimpanan berlangsung.
Proses pembentukan bahan ini dimulai saat Tandan Buah Segar (TBS) diolah menjadi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Bagian inti kemudian dipisahkan untuk dikirim ke Kernel Crushing Plant (KCP).
Di dalam fasilitas KCP, inti sawit diproses menggunakan mesin screw press. Cairan yang keluar menjadi Palm Kernel Oil (PKO), sementara sisa padatan yang tertinggal itulah yang kemudian diklasifikasikan sebagai produk PKE.
Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan kriteria mutu melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) 7856:2017. Ketentuan ini mengatur batasan kandungan serat kasar serta kadar abu demi menjamin keamanan pakan bagi hewan ternak.
Berikut adalah rincian standar nutrisi yang terkandung di dalamnya:
Serat kasar maksimal 16–20%.
Kadar abu maksimal 5–6%.
Kandungan cangkang maksimal 10–15%.
Energi metabolis mencapai 2.582–2.682 kkal/kg.
Mineral penting seperti fosfor, seng, dan mangan juga ditemukan dalam kadar tinggi pada produk ini. Kandungan tersebut menjadikan PKE sebagai sumber energi alternatif yang sangat efektif guna menggantikan bahan pakan impor.
Pemanfaatan utama komoditas ini menyasar hewan ruminansia seperti sapi potong maupun sapi perah. Penggunaan dalam formulasi ransum terbukti mampu meningkatkan pertambahan bobot badan harian ternak secara signifikan bagi para peternak lokal.
Efisiensi biaya produksi pakan dapat ditekan hingga angka 20% melalui penggunaan bungkil ini. Langkah tersebut membantu mengurangi ketergantungan industri peternakan nasional terhadap pasokan bungkil kedelai yang berasal dari luar negeri.
Khusus untuk ternak unggas, produk ini memerlukan proses fermentasi tambahan sebelum diberikan. Hal itu dilakukan guna menurunkan kadar serat kasar sehingga sistem pencernaan ayam atau bebek dapat menyerap nutrisi secara lebih optimal.
Strategi hilirisasi industri sawit menempatkan PKE sebagai kontributor devisa negara yang penting. Selain memenuhi kebutuhan domestik, permintaan dari pasar global terus meningkat karena kualitas nutrisi yang stabil dan harga kompetitif.
Penerapan prinsip zero waste atau nirlimbah terlihat nyata dalam siklus pengolahan kelapa sawit ini. Setiap bagian buah sawit memberikan nilai ekonomi tinggi sehingga tidak ada materi yang terbuang sia-sia ke lingkungan.
Kini PKE diakui sebagai harta karun yang mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan pakan berkualitas. Keberadaannya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit yang menerapkan sistem pengolahan terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.***




