Penjelasan Badan Gizi Nasional Terkait Kontroversi Susu MBG yang Mengandung 30 Persen Susu Segar
Sumber Foto: Liputan6.com
Fakta Segar

Penjelasan Badan Gizi Nasional Terkait Kontroversi Susu MBG yang Mengandung 30 Persen Susu Segar

Susu yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan di media sosial setelah terungkap bahwa produk tersebut hanya mengandung 30 persen susu segar. Menanggapi hal ini, Epi Taufik, anggota tim pakar Badan Gizi Nasional (BGN), memberikan penjelasan mengenai komposisi susu sapi segar dan isi dari susu MBG.

Epi menjelaskan bahwa susu sapi segar secara alami mengandung sekitar 88 persen air dan 12 persen bahan kering, termasuk lemak, protein, laktosa, dan mineral. "Kandungan utama susu sapi, terutama yang berasal dari sapi Frisian Holstein, adalah air," ungkapnya. Hal ini, menurut Epi, mungkin kurang dipahami oleh masyarakat, sehingga memicu berbagai tudingan bahwa susu MBG telah dimanipulasi.

Ia menegaskan bahwa komposisi susu MBG mengikuti spesifikasi yang telah ditetapkan oleh BGN serta mematuhi Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Susu MBG dirancang dengan bahan baku minimum 20 persen susu segar, diperkuat dengan padatan susu yang mengandung gizi setara dengan susu segar.

"Kandungan kalsium dalam susu MBG tidak kurang dari 15 persen dari nilai harian, kadar lemak minimal 3 persen, kadar protein minimal 2,7 persen, serta kadar karbohidrat dan mineral tidak kurang dari 7,8 persen," jelasnya.

Kandungan Gizi yang Setara dengan Susu Segar

Meskipun hanya mengandung 20 persen susu segar, Epi menegaskan bahwa kualitas gizi susu MBG tetap terjaga. "Ini bukan berarti sisanya adalah air. Kandungan gizi susu MBG setara dengan susu segar," tegasnya.

Kendala Produksi Susu Segar di Indonesia

Pernyataan ini muncul di tengah tantangan yang dihadapi oleh produksi susu segar di Indonesia, yang saat ini baru memenuhi 20 persen dari total kebutuhan nasional. Menurut data yang disampaikan oleh tim pakar BGN, produksi susu segar dalam negeri hanya sekitar 1 juta ton per tahun, sehingga Indonesia harus mengimpor 80 persen dari kebutuhan susu reguler.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menginginkan agar susu MBG sepenuhnya menggunakan bahan baku susu segar produksi dalam negeri. Namun, dengan kondisi saat ini, penggunaan susu segar dalam MBG dimulai dari minimum 20 persen, dengan harapan akan meningkat secara bertahap seiring dengan peningkatan produksi susu segar di dalam negeri.

Dengan langkah ini, diharapkan kebutuhan susu untuk program MBG dapat dipenuhi tanpa menambah volume impor yang sudah tinggi. Selain itu, diharapkan dapat memberikan dukungan kepada peternak sapi perah lokal untuk meningkatkan produksi susu segar.