Raymond Chin: K-Pop Sebagai Mesin Ekonomi dan Budaya Digital
Sumber Foto: RRI.co.id
Ekonomi

Raymond Chin: K-Pop Sebagai Mesin Ekonomi dan Budaya Digital

Fakta Baru - RRI.CO.ID, Palembang - Industri K-Pop dinilai bukan sekadar hiburan musik, melainkan mesin ekspor dan ekonomi yang terstruktur. Praktisi bisnis Raymond Chin membahasnya dalam video YouTube yang diunggah Kamis 28 Agustus 2025.

Dalam video berjudul Belajar Cara Bisnis K-POP "Manipulasi" Fans Indonesia, ia membedah strategi sukses global Korea Selatan. Raymond menilai keberhasilan tersebut lahir dari perencanaan jangka panjang antara swasta dan pemerintah.

Ia menjelaskan kolaborasi agensi dan pemerintah dimulai sejak krisis moneter 1997 untuk membangun kekuatan budaya. “Korea bukan sekadar jual lagu, mereka menjual komunitas bernama fan economy,” ujarnya.

Raymond menyoroti peran empat agensi besar yang dikenal sebagai Big 4. SM, YG, JYP, dan Hybe disebut berhasil mentransformasi model bisnis tradisional menjadi ekosistem digital terintegrasi.

Menurutnya, perubahan paradigma industri hiburan modern terletak pada pengelolaan keterikatan emosional penggemar. Nilai ekonomi tidak lagi bertumpu pada penjualan lagu semata.

Ia mencontohkan platform Weverse milik Hybe sebagai strategi monetisasi berkelanjutan. Melalui konten eksklusif dan merchandise, pendapatan tetap mengalir meski artis sedang hiatus.

Raymond menegaskan keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya membangun loyalitas jangka panjang. “K-pop menggeser bisnis dari menjual musik menjadi menjual pengalaman,” tuturnya.

Ia menilai fandom telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi digital yang terukur dan stabil. Pendekatan ini membuat industri K-Pop mampu bertahan dalam berbagai siklus pasar.

Sebagai penutup, Raymond mengajak pelaku usaha Indonesia menerapkan sistem berkelanjutan. Ia menegaskan keterikatan emosional yang dikelola profesional dapat menciptakan dampak ekonomi besar.