SANFFEST Ramadan: Fadli Zon Dorong Pengembangan Cerita Pesantren dalam Film
Sumber Foto: VOI.id
Hiburan

SANFFEST Ramadan: Fadli Zon Dorong Pengembangan Cerita Pesantren dalam Film

Fakta Baru - TANGERANG SELATAN — Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan Santri Film Festival (SANFFEST) harus jadi jalur nyata memperluas ekosistem film—bukan sekadar panggung sesaat. Ia menilai pesantren punya modal cerita besar, tetapi selama ini kerap tidak diberi ruang produksi dan pembinaan yang cukup.

Pernyataan itu disampaikan Fadli saat menghadiri Bedah Film SANFFEST Ramadan di Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kebudayaan, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu, 1 Maret.

“Santri Film Festival sudah dimulai sejak tahun lalu dan menjadi bagian dari program Kementerian Kebudayaan, dengan harapan bahwa semua orang mempunyai kesempatan untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Salah satu ekspresi budaya itu adalah seni, termasuk film,” kata Fadli di depan pimpinan pesantren dan para santri.

Fadli menekankan kebudayaan tidak semata urusan seni. Ia menyebut ada 10 Objek Pemajuan Kebudayaan: bahasa, sastra, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, permainan tradisional, olahraga tradisional, pangan lokal, dan seni. Menurutnya, film penting karena mampu “menampung” banyak unsur itu sekaligus.

“Di dalam film ada seni akting, bahasa, sastra, musik, tari, wastra, bahkan kuliner. Film adalah platform yang mengandung banyak unsur seni dan budaya, sekaligus paling mudah disebarluaskan di era digital saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kementerian Kebudayaan kini memprioritaskan lima ekosistem seni dalam manajemen talenta nasional: film, musik, seni pertunjukan, seni rupa, dan sastra. Programnya mencakup pembibitan, workshop, capacity building, hingga pendampingan oleh maestro dan ahli.

Fadli juga memaparkan kondisi pasar yang menurutnya sedang menguntungkan: film nasional disebut telah menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar bioskop domestik. Ia menyebut capaian ini peluang, terutama bagi generasi muda, termasuk santri, untuk masuk lebih serius ke industri.

Ia mengulas jejak film Indonesia di festival internasional seperti IFFR Rotterdam, Clermont-Ferrand, Berlinale, Sundance, Cannes, Busan, hingga Venice, serta ekosistem festival dalam negeri seperti Festival Film Indonesia, Jakarta Film Week, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Soal basis cerita, Fadli menyoroti Indonesia memiliki sekitar 42.000 pesantren, ditopang 1.340 suku bangsa dan 718 bahasa daerah. Ia menyebut pesantren punya tradisi intelektual dan ruang diskusi yang unik. Ia mencontohkan novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang diadaptasi menjadi film dan meraih jutaan penonton sebagai bukti cerita dari pesantren punya pasar.

Acara ini dihadiri pimpinan pondok pesantren dan santri dari Pondok Pesantren Qatrun Nada, Rahmaniyah Al-Islami, At-Taqwa, dan Fajar Dunia. Fadli didampingi antara lain Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal serta Staf Khusus Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda.

“Kekuatan film ada pada cerita. Dan Indonesia tidak pernah kekurangan cerita. Santri punya pengalaman, tradisi, dan perspektif yang sangat unik,” kata Fadli.