Sektor EV-Related Dorong Pertumbuhan Pasar Industri Jabodetabek 2025
Pasar properti industri di Greater Jakarta tetap resilien di tengah tantangan global dan penyesuaian rantai pasok regional. Permintaan masih ditopang sektor logistik dan manufaktur, seiring tren relokasi serta diversifikasi produksi di Asia — termasuk menguatnya strategi China+1 maupun China+many.
Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik bagi investor. Masuknya pasokan baru membuat dinamika pasar kian selektif dan kompetitif. Dalam beberapa tahun ke depan, pasokan diperkirakan bertambah, terutama dari submarket di koridor Timur Greater Jakarta.
Akhir 2025 ditandai serapan lahan yang masih kompetitif, meski tidak sebaik 2024. Pada periode ini, sektor yang berpotensi menyerap lahan industri mencakup konstruksi (heavy equipment), manufaktur, FMCG, EV- related, dan tekstil. Adapun sektor EV-related tercatat menyumbang 18% dari total serapan lahan 2025 di Greater Jakarta.
Masih terkait EV- related, dalam lima tahun terakhir sektor ini tercatat sebagai penyerap lahan tertinggi, diikuti sektor data center. Di tengah optimisme transaksi 2025, koridor Barat (Serang–Cilegon) bergerak agresif dan mendominasi serapan lahan. Performa ini ditopang oleh pendekatan penjualan langsung ke investor, ketersediaan lahan, harga yang relatif stabil, serta UMR yang lebih kompetitif.
Pasar kawasan industri Jabodetabek dan sekitarnya pada semester II/2025 mencatat penambahan stok terutama di koridor Timur, sehingga total stok kini berkisar 15.920 hektare. Rata-rata harga lahan juga meningkat di sejumlah submarket, didorong tingginya permintaan — terutama di Bekasi, Karawang, dan Subang.
Total serapan lahan sepanjang 2025 tercatat sekitar 318,3 hektare. Cilegon–Serang dan Bekasi menjadi submarket yang menonjol pada akhir 2025. Dari sisi okupansi, sektor konstruksi menjadi occupier paling aktif di akhir 2025. Sementara itu, EV- related dan manufaktur menjadi sektor penyerap lahan tertinggi sepanjang 2025.
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menyebut Greater Jakarta telah tumbuh menjadi ekosistem industri paling matang di Indonesia. Menurutnya, hal ini didukung berbagai infrastruktur, mulai dari akses pelabuhan dan jaringan tol, ketersediaan tenaga kerja, hingga basis permintaan domestik yang kuat.
“Hal ini menjadi salah satu keunggulan komparatif yang menjadi pertimbangan utama bagi investor, baik untuk fase awal maupun ekspansi lanjutan industri. Dengan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga performa, maka Greater Jakarta seharusnya dapat terus memetik buah meski di tengah persaingan regional yang kompetitif,” ujarnya, Kamis (27/2/2026). (*)




