Yosep Anggi Noen Hadapi Tantangan Adaptasi Film Laut Bercerita
Sumber Foto: Tempo.co
Hiburan

Yosep Anggi Noen Hadapi Tantangan Adaptasi Film Laut Bercerita

MENGADAPTASI novel fiksi sejarah sepopuler Laut Bercerita karya Leila S. Chudori bukanlah perkara mudah. Bagi sutradara Yosep Anggi Noen yang kali ini berkolaborasi dengan rumah produksi Pal8 Pictures, tantangan terbesarnya bukan sekadar memindahkan kata-kata ke dalam gambar, melainkan bagaimana menciptakan "mesin waktu" yang mampu menyeret penonton kembali ke atmosfer kelam akhir tahun 90-an.

Dalam konferensi pers peluncuran teaser resmi Laut Bercerita yang digelar di Plaza Indonesia, Selasa, 24 Februari 2026, Anggi mengungkapkan bahwa riset visual menjadi "nyawa" utama dalam film ini. Baginya, akurasi sejarah adalah harga mati agar penonton bisa sepenuhnya masuk ke dalam cerita yang disajikan.

Yosep Anggi Noen membandingkan proyek ini dengan filmnya terdahulu, 24 Jam Bersama Gaspar, yang berlatar masa depan. Menurutnya, membuat film masa depan terasa lebih bebas karena sifatnya yang spekulatif. Namun, ketika bicara soal tahun 90-an, ia mengaku tidak boleh main-main.

"Membuat film tentang tahun 90-an itu beratnya di riset. Salah sedikit saja, akan terasa ada yang bolong di mata penonton," ujar Anggi.

Untuk menyiasati tantangan tersebut, Anggi tidak membangun seluruh set dari nol. Ia memilih strategi berburu lokasi asli di beberapa kota yang wajah jalanan dan bangunannya masih "terjebak" di era 90-an. "Saya memilih lokasi di kota yang bentuk dan visualnya masih seperti tahun 90 -an, Kami cari existing location, baru kemudian kami tempel dengan detail-detail properti untuk menghidupkan dunianya," katanya.

Warna hingga Urusan Lampu Kilat

Ketelitian Anggi merambah hingga ke wilayah yang sangat teknis. Ia ingin sensasi warna dalam film ini benar-benar mewakili zamannya. Tak tanggung-tanggung, tim produksi melibatkan dua konsultan fotografi khusus untuk memastikan estetika gambar tetap autentik.

"Kami riset bagaimana jenis foto pakai blitz (lampu kilat) dan tanpa blitz di tahun itu. Fotografi warna tahun itu dan fotografi hitam putih. Bayangkan serumit itu detailnya," ungkap Anggi.

Baginya, jika pembangunan dunia visual (world building) ini gagal, maka akting sehebat apa pun dari para aktor tidak akan mampu menyentuh hati penonton.

Visual yang kuat tersebut akan didukung oleh performa jajaran aktor lintas generasi. Dalam acara tersebut. Aktor kawakan Reza Rahadian akan memimpin barisan pemain bersama Dian Sastrowardoyo ,Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Yunita Siregar, Kevin Julio, Yoga Pratama, Dewa Dayana, Ben Nugraha, Eva Celia, Ibnu Jamilo, Natalis Cendana, Aprian Arisandi, dan Landung Simatupang.

Mengubah Barisan Kata Jadi Gerakan Dinamis

Penulis novel, Leila S. Chudori, menjelaskan bahwa versi layar lebar ini akan memberikan ruang yang lebih luas bagi momen-momen yang di dalam buku mungkin hanya tertulis singkat. Maksudnya, kejadian yang di novel hanya dijelaskan dalam satu paragraf, di film akan dikembangkan menjadi adegan yang penuh aksi dan emosi agar lebih dramatis saat dilihat.

"Ada yang di novel cuma satu paragraf, tapi di film kami kembangkan jadi lebih besar karena lebih menarik secara visual. Misalnya saat adegan pelarangan buku dan penangkapan aktivis. Di film harus terasa lebih dinamis," ucap Leila.

Lebih dari sekadar urusan teknis, Anggi ingin film ini menjadi medium untuk melihat para karakter sebagai manusia yang utuh yang punya rasa takut, sedih, sekaligus harapan besar untuk mengubah dunia.

"Dampak yang diharapkan adalah kita terus mengingat bahwa pemuda-pemuda ini adalah orang-orang yang punya banyak pertanyaan dan harapan untuk membuat dunia lebih baik," tutur Anggi.