53 Komoditas Pertanian RI Masuk Pasar AS Tanpa Bea Masuk
Jakarta, Mureks.com – Sebanyak 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia kini dapat memasuki pasar Amerika Serikat (AS) tanpa bea masuk. Kebijakan tarif nol persen ini merupakan hasil konkret diplomasi ekonomi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden AS Donald Trump, melalui kerangka perjanjian Agreements on Reciprocal Trade (ART).
Kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan AS ini secara spesifik membebaskan 173 pos tarif (HS Code) produk pertanian dan turunannya. Komoditas yang kini menikmati fasilitas tarif 0 persen sangat beragam, meliputi buah tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Selain itu, kopi dengan enam pos tarif, teh hijau dan teh hitam, serta aneka rempah strategis seperti lada, pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, dan kunyit juga termasuk dalam daftar. Produk lain yang turut dibebaskan tarifnya adalah kakao dan turunannya, minyak sawit, palm kernel oil, serta buah dan inti kelapa sawit. Tak ketinggalan, produk olahan buah, tepung dan pati berbasis singkong dan sagu, hingga pupuk mineral berbasis kalium juga memperoleh fasilitas serupa.
Peningkatan Daya Saing Ekspor
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyambut baik pencapaian ini. “Pembebasan tarif pada puluhan komoditas pertanian ini benar-benar hasil negosiasi yang berpihak pada petani kita. Bapak Presiden menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan diplomasi ekonomi yang kuat. Produk pertanian kita bisa masuk pasar global dengan akses yang lebih adil dan kompetitif,” ujar Amran pada Jumat (20/2).
Menurut Amran, akses tarif nol persen ke pasar AS yang bernilai besar akan meningkatkan daya saing komoditas pertanian Indonesia secara signifikan di kancah global. “Dengan tarif nol persen, produk kita punya ruang bersaing yang lebih besar. Dari sisi harga jadi lebih kompetitif. Ini peluang bagus untuk meningkatkan ekspor dan membuka pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha,” tambahnya.
Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk memastikan peningkatan kualitas, pemenuhan standar, dan kesinambungan pasokan agar peluang ekspor ini dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Kesempatan sudah ada di depan mata. Tinggal kita pastikan produksinya cukup dan mutunya terjaga, supaya petani bisa benar-benar merasakan manfaatnya,” tegas Amran.
Perjanjian Lebih Luas
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa perjanjian yang bertajuk Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance ini mencakup cakupan yang lebih luas. Dalam ART, terdapat total 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik dari sektor pertanian maupun industri, yang dibebaskan dari bea masuk ke pasar AS.
“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen,” kata Airlangga.
Sebelumnya, Indonesia dan AS juga telah menandatangani sejumlah Nota Kesepahaman (MoU) dalam acara Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC. Penandatanganan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi kesepakatan dagang resiprokal tersebut. Dengan pembebasan 173 pos tarif sektor pertanian menjadi 0 persen, pemerintah optimistis ekspor komoditas unggulan nasional akan bertambah seiring peningkatan daya saing harga produk Indonesia di pasar Amerika Serikat.




