Ayu Fara: Menyuarakan Kehidupan Melalui Sastra dan Prestasi
Sumber Foto: Kabar Magetan
Sosial

Ayu Fara: Menyuarakan Kehidupan Melalui Sastra dan Prestasi

Menggali Potensi dan Meraih Prestasi Melalui Sastra Sebagai Nafas Kehidupan Bagi Ayu Pramesti Putri Fara, Murid SMA 1 Magetan.

Di antara riuh dunia yang sering lupa mendengarkan suara hati, sastra hadir sebagai pelukan sunyi, tempat kata-kata tidak sekadar dibaca, tetapi dirasakan. Puisi dan geguritan bukan hanya rangkaian bait, melainkan jembatan luka dan harapan antara rasa serta makna kehidupan.

Ayu Pramesti Putri Fara, siswi SMA Negeri 1 Magetan yang masih duduk di kelas XII dan sering dipanggil ‘Fara’ oleh teman-temannya ini kelahiran Kota Magetan 2007. Fara yang juga mempunyai hobi ‘modeling’ selalu menanamkan sastra pada jiwanya sebagai rumah pulang dan panggung pengabdian rasa.

Sastra adalah seni yang hidup yang bernapas melalui metafora, berjalan dalam irama, dan menangis dalam jeda. Setiap kata yang diciptakan bukanlah aksara kosong, melainkan serpihan pengalaman yang dipahat dengan kejujuran.

Ketika Fara membaca puisi atau melantunkan geguritan, suaranya bukan hanya suara melainkan gema hati yang memanggil kesadaran pendengar untuk ikut merasakan kehidupan.

Sejak usia belia, Fara telah membuktikan bahwa sastra bukan sekadar hobi, tetapi jalan perjuangan. Di panggung banyak lomba, gadis cantik itu berdiri membawakan kata sebagai senjata, rasa sebagai perisai. Prestasi demi prestasi menjadi saksi bahwa ketekunan dalam mencintai seni tidak pernah mengkhianati hasil.

Dari tingkat Kabupaten hingga Provinsi maupun Nasional, langkahnya menorehkan jejak yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menghidupkan marwah sastra. Meskipun terkadang sering gagal, Fara tak gentar untuk terus berkarya. Puisi baginya adalah doa yang dilafalkan dengan keberanian. Geguritan adalah warisan budaya yang ia rawat dengan sepenuh jiwa.

Dalam setiap penampilannya seolah berkata bahwa sastra adalah tempat mencurahkan segala yang tak mampu diucapkan oleh diam. Ia membuktikan bahwa seni kata mampu membentuk karakter, menajamkan empati, dan memuliakan kehidupan.

Dedikasi dan kecintaan Fara terhadap dunia sastra terukir nyata melalui beberapa prestasi berikut seperti :

1. Juara 1 Cipta Baca Puisi UKS DIKPORA Jenjang SMP/Sederajat Tingkat Kabupaten Magetan Tahun 2021.

2. Juara 3 Lomba Baca Geguritan Tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Magetan Tahun 2023.

3. Juara 1 FLS2N DIKPORA Cabang Baca Puisi Tingkat Kabupaten Magetan Jenjang SMA Tahun 2024.

4. Harapan 1 Cipta dan Baca Puisi Tingkat Karesidenan Madiun UNIPMA Tahun 2024?

5. Juara 1 Cipta Baca Puisi Dinas Arpusda Kabupaten Magetan Tahun 2024.

6. Juara 1 Cipta Baca Puisi Tingkat Nasional Festival Bulan Bahasa UNIPMA Tahun 2024.

7. 10 Besar Cipta Baca Puisi Tingkat Provinsi Jawa Timur SMA Awards DINDIK JAWAPOS Tahun 2024.

8. Juara 1 Baca Puisi FLS3N Tingkat Kabupaten Magetan Tahun 2025.

Prestasi-prestasi tersebut bukan sekadar deretan gelar, melainkan penanda perjalanan batin seorang insan sastra. Fara telah membuktikan bahwa ketika kata diperlakukan sebagai seni dan kehidupan dipahami melalui rasa, sastra akan terus hidup menjadi cahaya di antara gelap, menjadi suara bagi jiwa-jiwa yang ingin dimengerti

Ada fase ketika kata tidak lagi cukup hanya dipentaskan, tetapi harus diabadikan. Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi perjalanan sastra ketika karya-karyanya direncanakan untuk dirilis dalam bentuk buku. Buku itu nantinya bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan dokumen rasa, rekam jejak kegelisahan sosial, dan suara generasi muda yang berani berbicara melalui bahasa kiasan.

Ini adalah salah satu puisi berjudul “KAU SENDIRI YANG MEMAHATKAN” karya Fara

Kau sendiri yang telah memahatkan

Kesalahan dan dunia yang baru kau kenal

Pada rekah kelopak mawar taman beliamu

Pada bisik badai harimu

Kau sendiri yang telah melepaskan mahkota

Ketika berjalan mengelilingi taman

Dengan telanjang kaki menapaki batu

Hingga kau tergelincir

Terperosok pada semak duka

Atau inikah kemerdekaan yang kau pilih

Kini hanya sesal meluluri aib

Tak ada pangkal

Tak ada ujung

Beribu anak panah sedang menujumu

Dari mata atau lidah sekelilingmu

Kau dan juga angin tak bisa tahu

Mesti ke mana menyambut gugurnya kelopakmu

Sebaiknya hayati tasbihmu

Atau cium sajadahmu

Untuk mengikis pekat malammu

Melalui banyak karya puisinya, Fara ingin membuktikan bahwa sastra bukan menara gading, melainkan cermin kehidupan yang hadir untuk menyapa mereka yang terpinggirkan dan menguatkan yang terluka atau sekedar berbagi rasa. (eaw-f)