Buka Puasa Bersama: Diplomasi dan Solidaritas Arab-Indonesia di Bulan Ramadan
Ramadan selalu menjadi momen spiritual yang sarat makna, bukan hanya bagi umat Muslim, tetapi juga bagi diplomasi internasional.
Pada awal pekan ini, Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste non-residence, Abdulla Salem Al Dhaheri, yang juga menjabat sebagai dean duta besar negara-negara Arab di Indonesia, memanfaatkan momentum ini untuk menyelenggarakan acara buka puasa bersama yang menghadirkan para duta besar negara-negara Arab serta sejumlah pejabat tinggi Indonesia.
Dari siaran pers diterima inilah.com, Kamis (26/2/2026), acara tersebut menjadi arena pertemuan simbolis dan strategis, dihadiri Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, serta tokoh-tokoh diplomasi senior seperti Alwi Shihab, Retno Marsudi, dan Yenny Wahid, puteri mantan Presiden Abdurrahman Wahid.
Kehadiran mereka menegaskan, diplomasi Ramadan bukan sekadar formalitas, tetapi kesempatan memperkuat jaringan dan memperdalam dialog lintas budaya.
Dalam sambutannya, Dubes Al Dhaheri menekankan, Ramadan merupakan waktu refleksi dan kedermawanan, yang mampu mempererat hubungan antarbangsa.
“Ramadan bukan hanya ritual ibadah, tetapi momentum untuk memperkuat persatuan dan memperdalam dialog antarbangsa,” tegasnya.
Nilai kedermawanan, menurut Dubes, adalah akar budaya yang mengikat Emirat dan Indonesia, dan dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata di berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kemanusiaan.
Acara tersebut juga menandai penyambutan tiga duta besar baru, yakni Duta Besar Palestina Abdulfatah Al Satri, Duta Besar Lebanon Salam Al Ashqar, dan Duta Besar Qatar Dr. Sultan Mubark Al Dosari.
Kehadiran mereka menjadi simbol babak baru dalam diplomasi multilateral, dengan Indonesia berperan sebagai tuan rumah yang inklusif.
Analisis para pakar diplomasi menunjukkan, penyelenggaraan acara di bulan Ramadan memberi sentuhan soft power yang kuat, karena momen spiritual ini membuka ruang percakapan yang lebih hangat dan bersahabat antarnegara.
Tekankan Diplomasi Kemanusiaan
Dalam pidatonya, Dubes UEA memuji Indonesia sebagai negara yang memadukan kearifan lokal, moderasi beragama, dan kekayaan budaya.
Menurutnya, posisi Indonesia sebagai bridge-builder antarnegara memberi peluang bagi UEA untuk memperkuat kerja sama strategis, baik dalam sektor ekonomi, pendidikan, maupun stabilitas regional.
“Menjalankan misi diplomatik di Indonesia adalah kesempatan unik untuk berinteraksi dengan masyarakat yang dikenal ramah dan terbuka,” ujarnya.
Dubes Al Dhaheri juga menekankan pentingnya diplomasi kemanusiaan. UEA, berpedoman pada visi kepemimpinan Yang Mulia Syekh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, menempatkan bantuan kemanusiaan sebagai inti kebijakan luar negeri.
Salah satu inisiatif terkini adalah kampanye “ Edge of Life ”, yang menargetkan penyelamatan lima juta anak dari ancaman kelaparan. Ini menunjukkan bahwa diplomasi UEA bukan hanya tentang pertemuan kenegaraan, tetapi aksi nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat global.
Soft Diplomacy Ramadan
Pengamat diplomasi menilai, pendekatan UEA tersebut memperkuat posisi negara Arab sebagai aktor global yang responsif terhadap isu kemanusiaan.
Ramadan, dalam konteks ini, menjadi platform diplomasi yang efektif, karena menggabungkan nilai spiritual, kedermawanan, dan kolaborasi lintas bangsa.
Buka puasa bersama para duta besar Arab di Jakarta bukan hanya seremoni, tetapi strategi soft diplomacy yang mengedepankan solidaritas, pemahaman budaya, dan hubungan manusiawi yang langgeng.
Dengan momentum Ramadan sebagai latar, Dubes UEA berhasil menggabungkan kehangatan spiritual, diplomasi multilateral, dan aksi kemanusiaan.
Acara tersebut menjadi cerminan bagaimana negara-negara Arab, melalui kepemimpinan yang visioner, dapat menggunakan nilai-nilai agama dan budaya untuk memperkuat hubungan internasional, sekaligus menorehkan aksi nyata yang berdampak bagi masyarakat dunia.




