Dua Siswi Semarang Raih Emas IEYI 2014 lewat Inovasi Tusuk Gigi Pendeteksi Boraks
Semarang — Dua siswi asal Semarang, Jawa Tengah, Luthfia Adila (17) dan Dayu Laras Wening (17), meraih medali emas dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014 yang digelar di Jakarta pada 30 Oktober–1 November 2014.
IEYI merupakan pameran tahunan kreativitas dan temuan ide remaja bertaraf internasional yang diselenggarakan sejak 2004 di Jepang. Dalam kompetisi tersebut, Luthfia dan Dayu menampilkan inovasi berupa alat pendeteksi boraks berbahan medium tusuk gigi.
Berangkat dari isu makanan berbahaya
Dayu Laras Wening, yang akrab disapa Wening, menjelaskan bahwa ide pengembangan alat tersebut muncul dari maraknya isu di Indonesia mengenai makanan yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti boraks atau formalin. Menurutnya, untuk memastikan kandungan bahan tersebut pada makanan umumnya diperlukan uji laboratorium yang memakan biaya, waktu, serta proses yang panjang.
“Awalnya ide itu muncul isu daging, tahu, bakso ramai diperbicangkan mengandung borax. Saat itu, untuk mendeteksi kandungan itu harus uji laboratorium,” ujar Wening.
Tusuk gigi sebagai medium, formula belum diungkap
Keduanya kemudian mencari alternatif yang lebih praktis untuk mendeteksi boraks. Hasilnya adalah perangkat pendeteksi yang menggunakan tusuk gigi sebagai medium.
Wening menyebut alat itu tidak hanya berupa tusuk gigi, melainkan ada campuran bahan lain yang dilarutkan bersama tusuk gigi. Tusuk gigi dipilih sebagai medium agar proses pengecekan bisa dilakukan tanpa menarik perhatian penjual makanan.
Namun, saat diminta menjelaskan lebih rinci mengenai formula yang digunakan, mereka tidak membeberkan detailnya karena karya tersebut belum dipatenkan sebagai HAKI.
Cara kerja dan indikator warna
Menurut Wening, alasan penggunaan tusuk gigi adalah karena dianggap praktis dan murah, sehingga dapat digunakan masyarakat luas. Ia menyebut sempat mempertimbangkan tusuk sate, tetapi dinilai terlalu besar.
Cara penggunaannya, tusuk gigi ditusukkan ke makanan selama sekitar lima detik. Jika makanan mengandung boraks, warna tusuk gigi akan berubah menjadi kemerah-merahan.
- Warna merah-kemerahan di atas lima persen disebut dapat dipastikan mengandung boraks.
- Jika hanya muncul bintik-bintik merah, dinyatakan tidak mengandung boraks atau berada di bawah lima persen.
Temuan itu diberi nama Stick Of Borax Detector (SIBODEC).
Rencana kemasan dan penggunaan berulang
Keduanya merencanakan SIBODEC dijual dalam kemasan kotak kecil berisi 35 sachet dengan harga Rp35 ribu. Satu sachet disebut berisi dua tusuk gigi dan dapat digunakan beberapa kali.
“Jadi misal kita menusukkan ujungnya kemudian berwarna merah, maka potong ujungnya dan gunakan bagian lainnya,” ujar Wening.
Pernah berprestasi di tingkat nasional
Guru pembimbing mereka, Agus P, mengatakan inovasi tersebut sebelumnya meraih juara 3 dalam ajang National Young Innovator Award (NYIA) pada 2013. Setelah itu, SIBODEC diajukan ke kompetisi yang lebih tinggi hingga akhirnya meraih medali emas di IEYI 2014.




