Dugaan Keterkaitan Keluarga Airlangga Hartarto dalam MoU Dagang RI–AS Terungkap
Jakarta, Aktual.com – Lembaga riset Trend Asia mengungkapkan dugaan adanya keterkaitan antara keluarga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan sejumlah perusahaan yang terlibat dalam penandatanganan memorandum of understanding (MoU) terkait kerja sama dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Temuan ini muncul setelah penelusuran kepemilikan perusahaan yang terlibat dalam perjanjian yang berkaitan dengan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara kedua negara. Manajer Riset dan Investigasi Trend Asia, Zakki Amali, menyatakan bahwa analisis yang dilakukan berfokus kepada kepemilikan manfaat akhir perusahaan atau ultimate beneficial owner (UBO).
“Kami melakukan penelusuran melalui dokumen resmi pemerintah, data dari Kementerian Hukum, serta dokumen korporasi terkait perusahaan-perusahaan yang menandatangani MoU,” terang Zakki saat memberikan keterangan di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, ART sudah menjadi sorotan karena dianggap tidak seimbang dan berpotensi mengancam kedaulatan negara. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran adanya keuntungan bagi pihak tertentu, termasuk Menteri Airlangga sebagai pemimpin dalam negosiasi tersebut.
Dalam analisisnya, Trend Asia mencatat terdapat 11 MoU bisnis antara perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani sehari sebelum kesepakatan perdagangan ART. Dari total tersebut, tujuh perjanjian memiliki keterkaitan dengan Airlangga melalui hubungan keluarga, pengalaman kerja, atau relasi bisnis sebelumnya.
Salah satu temuan menarik adalah keterlibatan PT Galang Bumi Industri (GBI), yang menandatangani tiga MoU dengan perusahaan Amerika di sektor semikonduktor dan kawasan perdagangan bebas. Anak-anak Airlangga, seperti Ravindra Airlangga dan Dinesvara Airlangga, diidentifikasi sebagai Komisaris Utama di GBI dan memiliki kepemilikan saham tidak langsung sekitar 30 persen melalui PT Dravara Investama Internasional.
Zakki menekankan bahwa seluruh informasi yang diperoleh bersumber dari dokumen resmi yang dapat diverifikasi, sehingga tidak sekadar asumsi. Data ini menunjukkan adanya hubungan yang perlu diperhatikan antara kebijakan perdagangan dan kepentingan bisnis tertentu.
Sektor-sektor lain yang juga termasuk dalam analisis MoU tersebut meliputi energi, tekstil, dan pertanian, dengan nilai total kerja sama mencapai sekitar 38,4 miliar dolar AS. Zakki mengingatkan bahwa beberapa klausul dalam perjanjian perdagangan dapat berdampak luas bagi masyarakat Indonesia, seperti isu transfer data pribadi ke AS, impor bioetanol, dan komoditas pertanian yang berpotensi memengaruhi ketahanan pangan.
Berikut adalah daftar 11 MoU bisnis Indonesia–Amerika Serikat yang dianalisis oleh Trend Asia:
- Critical Mineral – Kementerian Investasi dan Freeport-McMoRan bersama Freeport Indonesia
- Oilfield Recovery – Pertamina dan Halliburton
- Agrikultur Jagung – Cargill Indonesia dan Cargill Inc
- Cotton – Busana Apparel Group dan U.S. National Cotton Council
- Cotton – PT Daehan Global dan U.S. National Cotton Council
- Shredded Worn Clothing – AGTI dan PT Pan Brothers dengan Ravel
- Furnitur – ASMINDO dan Bingaman & Son Lumber
- Semikonduktor – PT Galang Bumi Industri dan Essence
- Semikonduktor – PT Galang Bumi Industri dan Tynergy Technology Group
- Transnational Free Trade Zone – PT Galang Bumi Industri dan Solanna Group LLC
- Wood Product – HIMKI dan American Hardwood Export Council
Temuan ini menjadi salah satu alasan bagi Trend Asia untuk menolak perjanjian perdagangan ART dan meminta pemerintah untuk menjelaskan potensi konflik kepentingan yang mungkin muncul selama proses negosiasi dan implementasi kerja sama tersebut.




