Indonesia dan Jepang Tingkatkan Kerja Sama Riset Energi dan Teknologi
KBRN, Jakarta: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang melakukan lokakarya di Jakarta. Lokakarya bertema energi dan teknologi ini berlangsung di Graha Diktisaintek Senayan, Selasa (6/1/2026).
Lokakarya memperkuat kemitraan strategis Indonesia Jepang berbasis riset terapan dan hilirisasi industri. Fokus kerja sama meliputi energi terbarukan, digital transportasi lingkungan, dan daya saing industri.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan, kolaborasi ini mendorong transformasi ekonomi berbasis sains. Kolaborasi juga menghubungkan perguruan tinggi industri dan kebutuhan pembangunan nasional.
“Tantangan utama adalah mengonversi riset kampus menjadi teknologi bernilai tambah. Kolaborasi dengan industri mempercepat hilirisasi dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Forum membahas proyek riset bersama dengan pendekatan satu langkah menuju industri. Direncanakan lima hingga tujuh proyek strategis kolaboratif lintas negara.
Nantinya, pertemuan lanjutan ditargetkan menghasilkan implementasi konkret tahun depan. “Saya berharap diskusi menghasilkan langkah nyata membangun industri bersama,” ucapnya, tegas.
Sementara itu, Wamendiktisaintek Stella Christie mengatakan, kolaborasi riset memberikan dampak yang sangat luas. Meski demikian, riset harus dirancang agar berdampak nyata bagi perekonomian nasional.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita merencanakan riset agar benar-benar mendukung perekonomian nasional. Riset harus menjawab tantangan sosial dan teknologi," kata Stella.
Selain itu, lanjut dia, riset juga harus menemukan titik temu di antara keduanya. "Sehingga kita dapat menentukan riset terbaik yang perlu dikembangkan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan riset nasional perlu difokuskan pada pengembangan bidang-bidang unggulan yang menjadi kekuatan Indonesia. Terutama pada niche areas yang memiliki potensi daya saing dan nilai tambah tinggi.
NEDO merupakan lembaga riset dan pengembangan nasional Jepang yang berfokus isu energi dan lingkungan global, dan penguatan teknologi industri. Indonesia dipandang sebagai mitra strategis dalam pengembangan teknologi energi baru terbarukan dan industri masa depan.
“Kami berharap lokakarya ini membantu mempertemukan kebutuhan Indonesia dengan keunggulan teknologi Jepang. Sekaligus mempercepat pembentukan kolaborasi riset yang konkret melalui program dan peluang pendanaan NEDO,” kata Executive Director of Technology and Innovation Strategy Center NEDO, Kikuo Kishimoto.
Dirjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman mengatakan, kolaborasi ini harus memberikan manfaat untuk kedua negara (Symbiotic Exchange). Hal ini sebagai strategi kunci mewujudkan kemitraan yang strategis dan berkelanjutan.
“Dalam kolaborasi ini Indonesia bisa mendapatkan akses ke deep tech, pendanaan riset, dan pengembangan, serta jalur komersialisasi. Hal ini untuk percepatan ekonomi berbasis inovasi," kata Fauzan.
Sementara untuk Jepang, lanjut dia, juga mendapatkan akses kepada pool talenta muda riset yang adaptif, ‘laboratorium hidup’ untuk menguji dan scale solusi industri 5, Sekaligus penguatan peran sebagai simpul strategis bagi kawasan Global South.
Adapun resolusi kerja sama untuk memfasilitasi pengembangan strategis yang sedang dikembangkan adalah model quadruple-helix transnasional atau yang dikenal dengan skema 2+2. Model ini merupakan kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi Indonesia dan Jepang yang melibatkan industri kedua negara.
“Dalam skema ini, perguruan tinggi Indonesia akan mendapatkan dukungan riset dan pendanaan dari Kemdiktisaintek dan industri Indonesia. Sedangkan, perguruan tinggi Jepang memperoleh dukungan dari NEDO dan industri di Jepang,” ujarnya.




