Indonesia Didesak Jaga Jarak dari Konflik Militer di Timur Tengah
Sumber Foto: merahputih.com
Internasional

Indonesia Didesak Jaga Jarak dari Konflik Militer di Timur Tengah

Fakta Baru - Merahputih.com - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyerukan penghentian kekerasan dan mendesak semua pihak menahan diri menyusul eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memuncak pada Sabtu (28/2).

Indonesia menyatakan kesiapan penuh untuk memfasilitasi dialog guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah demi menjaga perdamaian dunia.

Ujian Diplomasi di Board of Peace

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menekankan pentingnya Indonesia menjaga jarak dari penyelesaian krisis secara militer.

Rezasyah mendorong Kementerian Luar Negeri untuk mengambil posisi strategis, terutama dalam forum Board of Peace (BoP), agar hubungan dengan Amerika Serikat tetap terjaga tanpa mengorbankan prinsip perdamaian.

"Saya pikir Indonesia harus membuat kebijakan yang intinya menolak penyelesaian krisis internasional secara kekerasan," tegas Rezasyah dikutip Antara, Minggu (1/3).

Ia juga menyoroti perlunya sikap nyata dari kepemimpinan nasional.

"Di dalam Board of Peace ini kelak akan terjadi sikap yang lebih tegas dari Presiden Prabowo Subianto, karena beliau selama ini belum berbicara tentang Two-State Solution," tambahnya.

Risiko Keselamatan Prajurit dan Sentimen Gaza

Ketegangan ini bukan tanpa risiko domestik dan operasional bagi Indonesia. Rezasyah memperingatkan bahwa serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap warga sipil Iran dapat melukai perasaan masyarakat Gaza.

Mengingat kedekatan emosional warga Gaza dengan Iran, hal ini berpotensi mengancam keselamatan personel TNI yang sedang bertugas di wilayah konflik.

"Masyarakat di Gaza itu hatinya bersama Iran. Dan ini kalau kita tidak hati-hati akan berdampak juga terhadap keselamatan prajurit-prajurit Indonesia di sana," ungkap Rezasyah.

Konflik memanas setelah Kementerian Pertahanan Israel menetapkan status darurat nasional usai meluncurkan serangan ke Iran.

Langkah ini disusul oleh aksi militer Amerika Serikat dari udara dan laut. Menanggapi hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah melepaskan gelombang rudal dan drone sebagai aksi balasan atas agresi rezim Zionis.

Menghadapi situasi yang kian genting, Kemlu RI secara resmi meminta semua pihak menghormati integritas wilayah.