Inovasi Teknologi dalam Dokumenter Ice Age di Apple TV
KARYA dokumenter Apple TV berjudul Prehistoric Planet: Ice Age akan dirilis pada 26 November mendatang. Bila dua musim sebelumnya berfokus pada dinosaurus, seri terbaru ini bakal menghadirkan perspektif baru: masa ketika dinosaurus telah punah. Dunia kemudian dihuni megafauna ikonik Zaman Es seperti mammoth, sabertooth atau kucing bergigi pedang, kukang raksasa, singa marsupial, hingga burung berukuran besar.
Produser sekaligus showrunner dokumenter ini, Matthew Thompson, mengatakan teknologi sederhana menjadi pembeda utama produksi musim terbaru. “Perubahan terbesar yang kami buat, yang menarik, yaitu pada penggunaan puppets (model tiruan) dengan referensi teknis. Tidak ada di dua musim pertama,” katanya kepada Tempo pada Senin pekan lalu, 10 November 2025.
Penggunaan boneka pendukung ini lebih memungkinkan karena hewan-hewan di musim Ice Age jauh lebih kecil dibanding dinosaurus raksasa pada dua musim sebelumnya. Kru dapat membuat model berukuran asli sebagai acuan nyata bagi operator kamera.
Thompson memastikan puppets itu tidak muncul di layar, melainkan sepenuhnya hanya untuk menyempurnakan gerakan kamera. Model berukuran makhluk aslinya itu ditempatkan puluhan meter dari kamera yang bersembunyi dalam semak-semak. Teknik ini membantu menghasilkan gerakan kamera dan perubahan fokus yang natural, seperti proses pengambilan gambar dokumenter satwa liar.
“Ini tambahan yang mengejutkan karena low tech tapi hasil akhirnya sangat efektif,” kata dia.
Menurut Thompson, tantangan terbesar dari projek ini datang dari pekerjaan efek visual atau VFX (visual effects), terutama pada proses menciptakan atau memanipulasi gambar digital. Proses itu tidak bisa direkam secara langsung di lokasi.
“Misalnya pada hewan-hewan yang memiliki bulu di punggungnya. Setiap helai bulu harus dimodelkan,” ujar Thompson.
Beberapa bagian scene yang rumit divisualisasikan, mulai dari gambar hewan berbulu yang berjalan di salju tebal, situasi badai salju, anak hewan yang memanjat punggung induknya, maupun yang sedang bergerak di dalam air. Kesulitannya meningkat ketika adegan menampilkan makhluk berbulu raksasa yang mandi lumpur.
“Ketika pertama kali menunjukkan ide (bagian rumit) kepada perusahaan VFX, mereka mengira kami bercanda,” kata Thompson. Namun, dia meneruskan, tim tetap mencari solusi teknis untuk mewujudkannya.
Mike Gunton, eksekutif produser karya ini, menjelaskan bahwa kompleksitas kehidupan mamalia Zaman Es menuntut pendekatan visual yang tidak biasa. Teknologi visual yang dipakai harus mampu menggambarkan nuansa perilaku hewan-hewan yang bersosial tersebut.
“Tidak hahya membuat hewan-hewan ini terlihat nyata, tapi kami harus membuatnya terasa seolah mereka hidup,” tutur dia,
Pengambilan gambar menjadi kunci untuk memperlihatkan ekspresi dan dinamika interaksi antarhewan. “Kamu bisa melihat ke dalam kepala mereka, soal apa yang mereka pikirkan, dan harus diungkapkan melalui fotografi,” ujar Gunton.




