Iran Desak AS Beralih ke Diplomasi dan Tinggalkan Sanksi
Sumber Foto: اسلام تايمز
Internasional

Iran Desak AS Beralih ke Diplomasi dan Tinggalkan Sanksi

Islam Times - Seorang diplomat senior Iran menyatakan bahwa kini saatnya Amerika Serikat meninggalkan kebijakan sanksi yang “sia-sia” dan pendekatan perang yang gagal terhadap Iran, serta beralih pada diplomasi yang dilandasi rasa saling menghormati sebagai satu-satunya jalan ke depan.

“Musuh-musuh Iran mungkin dapat memulai perang, tetapi mereka tidak akan mampu menentukan akhirnya,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, dalam pidatonya di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, pada Senin.

“Anda telah mencoba sanksi dan perang terhadap Iran dan tidak membuahkan hasil. Sekarang saatnya mencoba diplomasi dan rasa hormat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa rakyat Iran tidak mencari agresi terhadap negara lain, namun akan berdiri teguh menghadapi setiap konspirasi militer atau politik terhadap Republik Islam serta membela tanah airnya.

Gharibabadi menyebut dampak perang tidak akan terbatas pada pihak-pihak yang terlibat, “tetapi akan meluas ke seluruh kawasan.”

Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam tindakan militer terhadap Iran sejak awal Januari, menyusul dukungan publiknya terhadap kerusuhan yang disebut-sebut terkait pihak asing.

Trump kemudian memerintahkan peningkatan signifikan kehadiran militer di perairan kawasan dekat Iran dan memperingatkan akan adanya serangan jika Teheran tidak menerima kesepakatan sesuai persyaratan AS.

Para pejabat Iran menegaskan kesiapan untuk mencapai kesepakatan yang adil terkait program nuklir negara itu, namun memperingatkan bahwa bahkan serangan terbatas sekalipun akan memicu respons tegas.

Dalam bagian lain pidatonya, Gharibabadi menyatakan bahwa para pihak yang mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia justru mendukung Amerika Serikat dan rezim Israel selama perang 12 hari melawan Iran pada Juni 2025, yang menewaskan lebih dari 1.060 warga Iran dan melukai sekitar 6.000 lainnya.

“Mereka bahkan tidak mengizinkan Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM untuk mengecam agresi tersebut.”

Gharibabadi mengatakan musuh-musuh Iran, yang menurutnya mengalami kekalahan besar dalam perang Juni, berupaya mempersiapkan ofensif militer baru dengan memicu kerusuhan di dalam negeri dan mengubah protes ekonomi damai menjadi kerusuhan mematikan.

Pejabat Iran itu juga mengecam para teroris yang melakukan kejahatan bergaya Daesh yang mengakibatkan gugurnya 2.427 warga sipil.

Gharibabadi menyebut pihak-pihak yang paling tidak menghargai martabat manusia justru mengeksploitasi isu hak asasi manusia demi kepentingan mereka sendiri.