Jejak Sejarah Islam: Dari Umroh ke Habasyah
Sumber Foto: Kompasiana.com
Internasional

Jejak Sejarah Islam: Dari Umroh ke Habasyah

Ibadah umroh selalu menghadirkan dimensi spiritual yang personal. Namun ketika perjalanan itu diperluas dengan jejak sejarah Islam di Habasyah---kini Addis Ababa---ia berubah menjadi ziarah makna yang lebih dalam. Bukan hanya thawaf dan sa'i, tetapi juga napak tilas episode awal perlindungan Islam di Afrika.

Hijrah ke Habasyah: Diplomasi Iman di Negeri Asing

Pada tahun-tahun awal kenabian, tekanan terhadap kaum Muslim di Makkah semakin berat. Sebagian sahabat diperintahkan hijrah ke negeri Habasyah (Abyssinia), yang saat itu dipimpin oleh Raja Najashi (An-Najasyi). Negeri ini dikenal memiliki penguasa yang adil dan tidak menzalimi pendatang.

Peristiwa ini dikenal sebagai Hijrah ke Habasyah---gelombang migrasi pertama dalam sejarah Islam, bahkan sebelum hijrah ke Madinah. Dalam literatur sirah, delegasi Quraisy sempat datang meminta agar para sahabat dipulangkan. Namun Ja'far bin Abi Thalib membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam di hadapan Raja Najashi. Sang raja tersentuh dan menolak menyerahkan para Muslim. Ia memberi suaka politik dan kebebasan beragama.

Secara historis, peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal berdialog dengan peradaban lain, bukan dalam relasi dominasi, tetapi dalam prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Rasulullah dan Raja Habasyah: Shalat Ghaib yang Bersejarah

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa ketika Raja Najashi wafat, kabar itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW di Madinah. Rasulullah kemudian menshalatkan jenazahnya secara ghaib bersama para sahabat. Peristiwa ini menjadi salah satu dalil praktik shalat ghaib dalam fikih Islam.

Tindakan tersebut bukan hanya penghormatan personal, tetapi juga simbol ikatan spiritual lintas benua. Seorang raja Afrika yang melindungi kaum Muslim dihormati langsung oleh Nabi di Jazirah Arab. Ini adalah narasi universal tentang solidaritas iman dan keadilan.

Bagi jamaah umroh yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Ethiopia, kisah ini memberi perspektif baru: sejarah Islam bukan hanya milik Timur Tengah, tetapi juga Afrika.