Kebahagiaan Dunia dan Akhirat: Perintah Berihsan dalam Islam
MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Seorang muslim dianjurkan tidak hanya mencari kebaikan di akhirat, tapi juga kebahagiaan di dunia. Bahkan terdapat larangan melupakan dunia.
Hal itu disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ ti pada Sabtu (21/2) di Masjid Istiqlal Jakarta dalam agenda Ceramah Tarawih.
Merujuk surat Al Qasas ayat 77, menurut Mu’ti dalam ayat tersebut memberikan perintah sekaligus larangan. Pertama adalah perintah untuk mencari kebahagiaan di kehidupan akhirat.
Mencari kebahagiaan untuk kehidupan akhirat, imbuhnya, dilakukan dengan cara memanfaatkan segala anugerah yang diberikan oleh Allah Swt. Anugerah itu bisa berupa harta, ilmu, kesehatan, bahkan jabatan.
“Meskipun demikian, karena kita ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat itu, kita dilarang untuk melupakan kebahagiaan kita dalam kehidupan di dunia,” katanya.
Dalam surat yang sama, perintah lain adalah berbuat ihsan atau memberikan perbuatan terbaik kepada yang lain, sebagaimana Allah Swt telah memberikan kebaikan kepada kita.
Pada saat bersamaan, dalam surat tersebut juga terdapat larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. “Kalau kita pahami lebih lanjut, surat Al Qasas ayat 77 tersebut, kita mendapatkan penjelasan bahwa kehidupan dunia itu penting, kehidupan akhirat juga penting,” ungkapnya.
Bahkan Abdul Mu’ti mengungkapkan, jumlah kata al akhirah dan ad dunya di Al Qur’an disebutkan sama yaitu sebanyak 115 kali. Meski keduanya penting, tetapi tentu saja akhirat lebih penting.
“Sehingga karena itu, maka Islam mengajarkan kepada kita bagaimana kebahagiaan ganda itu harus kita raih,” tuturnya.
Sementara itu, perilaku ihsan dan fasad itu menjadi pembeda antara hamba yang beriman yang membangun kehidupan di bumi tanpa merusak, dengan seorang munafik – meski sudah diperingatkan namun tetap melakukan kerusakan.
Istilah lain yang digunakan Al Qur’an untuk menyebut pembuat kerusakan adalah fasik. Oleh karena itu, sikap keimanan seorang hamba harus diimplementasikan pada pelestarian alam, serta peduli kepada sesama dan masa depan umat manusia.




