Kehadiran Allah dalam Kehidupan: Pelajaran dari Kajian Menjelang Buka Puasa
Fakta Baru - KLIKMU.CO – Dalam kajian menjelang buka puasa, takmir Masjid At-Taqwa Giri Muhammadiyah Cabang Kebomas mendatangkan Fiqi Risalah MA PhD sebagai pengasuh kajian pada Kamis (26/2/2026). Topik yang disampaikan kepada jamaah yang antusias hadir meskipun siang hingga sore hari diguyur hujan adalah kehadiran Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB ini membuka kajian dengan kisah Maryam, sosok wanita suci yang menjadi ibu Nabi Isa AS. Melalui Surah Ali Imran ayat 47, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya, menetapkan Maryam hamil meskipun belum menikah. Anak yang dikandungnya pun merupakan seorang yang istimewa, yakni Nabi Isa.
Fiqi menjelaskan, kisah Maryam berulang kali disebut dalam Al-Qur’an. Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.”
Allah berfirman melalui Jibril: “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata: ‘Jadilah!’ lalu jadilah ia.”
Kabar tersebut membuat perasaan Maryam bercampur antara gembira, sedih, takut, dan takjub. Fiqi menekankan, inilah bukti kemahakuasaan Allah, bahwa apa pun yang dikehendaki-Nya pasti wujud tanpa seorang pun yang mampu menghalanginya. Untuk menguatkan posisi Nabi Isa sebagai rasul, Allah senantiasa mengajarkannya Al-Kitab, pelajaran baca-tulis dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Fiqi menambahkan, kehadiran Allah dalam kehidupan manusia juga terlihat pada orang yang berpuasa, misalnya seseorang yang hanya makan sahur sebutir kurma dan minum air, namun tetap kuat hingga berbuka. Hal ini terjadi karena ia menjaga niat puasa dan tidak melakukan perbuatan rafats, fusuq, dan ghibah.
Ia menjelaskan tiga perbuatan tersebut: “Rafats adalah dosa akibat gejolak hawa nafsu, fusuq adalah dosa karena sifat tercela seperti sombong, iri hati, dan adu domba, sedangkan ghibah adalah membicarakan orang lain hingga orang yang dibicarakan merasa dirugikan.”
Bukti lain kehadiran Allah saat berpuasa terlihat dari proses autofagi, menurut penelitian ahli biologi Jepang Yoshinori Ohsumi pada 2016. Penemuan ini menjelaskan degradasi dan daur ulang sel dalam tubuh, penting untuk mencegah berbagai penyakit seperti kanker, Parkinson, diabetes, dan gangguan saraf.
“Sel yang memakan dirinya sendiri mungkin terdengar kejam, tetapi ini adalah hikmah Allah untuk memelihara kesehatan tubuh kita,” jelas Fiqi.
Ia memaparkan, autofagi ibarat motor tua yang komponennya diganti agar tetap berfungsi. Sel-sel tubuh menua tidak diganti seluruhnya, tetapi bagian yang rusak saja diperbarui menjadi organel baru, sehingga tubuh tetap sehat.
Fiqi menutup kajian dengan mengutip Imam Ghazali, bahwa puasa orang yang hanya menahan lapar tanpa penghayatan tauhid memang sah, tetapi puasanya tidak diterima Allah SWT.




