Lima Temuan Cendekiawan Muslim yang Disebut Berpengaruh pada Perkembangan Dunia
Sumber Foto: Aktual.com
Temuan Aktual

Lima Temuan Cendekiawan Muslim yang Disebut Berpengaruh pada Perkembangan Dunia

Sejumlah penemuan dan gagasan dari cendekiawan Muslim pada masa lalu kerap disebut turut memengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban global. Dalam catatan sejarah yang beredar, beberapa kontribusi itu mencakup bidang optik, matematika, budaya, hingga pendidikan.

Berikut lima temuan dan konsep yang disebut berperan penting dalam perubahan dunia.

1. Dasar fotografi melalui kajian optik Ibn al-Haytham

Jauh sebelum fotografi modern dikenal luas, Ibn al-Haytham disebut mengembangkan metode di bidang optik melalui penelitian tentang kamera lubang jarum, yang dipandang sebagai cikal bakal kamera modern. Ia menyimpulkan bahwa semakin kecil lubang (aperture), semakin tajam kualitas gambar, sehingga memungkinkan pembuatan kamera yang lebih akurat dalam menangkap gambar.

2. Kopi yang lebih dulu populer di dunia Islam

Kopi disebut telah menjadi minuman populer di Jazirah Arab, terutama Yaman, sekitar tahun 1400-an. Pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah, kopi menjadi komoditas penting yang didatangkan dari Yaman dan disebarkan ke berbagai wilayah, dari Kairo, Damaskus, hingga Baghdad.

Dalam fase awal perkenalannya di Eropa, gereja Katolik disebut pernah menyebut kopi sebagai “minuman Muslim”. Dalam perkembangannya, kopi kemudian menjadi bagian dari era pencerahan Eropa dan kerap menemani diskusi kalangan filsuf serta pemikir mengenai hak asasi, pemerintahan, dan demokrasi.

3. Marching band dari unit militer Janissary

Marching band disebut berasal dari unit militer Janissary pada masa kejayaan Utsmaniyah. Tujuannya untuk menakuti musuh melalui bunyi drum besar dan simbal. Dunia Barat disebut baru mengenal teknik ini setelah Utsmaniyah mengalami kekalahan dari Kekaisaran Austria-Hongaria di Wina.

4. Aljabar yang dirintis al-Khawarizmi

Cabang matematika aljabar dikaitkan dengan Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780–850). Melalui karyanya al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-jabr wa-lMuqabala (The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing), ia disebut merumuskan prinsip-prinsip dasar persamaan aljabar.

Dalam buku tersebut, al-Khawarizmi menjelaskan penggunaan persamaan dengan variabel tak diketahui untuk memecahkan persoalan nyata, seperti perhitungan zakat dan pembagian warisan. Pengembangan aljabar disebut dilatarbelakangi kebutuhan memudahkan perhitungan dalam hukum Islam pada masa ketika kalkulator dan komputer belum ada. Di Barat, aljabar disebut lebih dikenal dengan istilah algoritma dan menjadi panduan wajib dalam ilmu matematika.

5. Masjid sebagai pusat pendidikan dan lahirnya konsep madrasah

Masjid tidak hanya disebut berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan. Di masjid, para ulama mengajarkan ilmu agama kepada generasi muda, yang kemudian berkembang dengan pengajaran ilmu lain dan melahirkan konsep madrasah.

Pada masa awal, madrasah disebut masih menjadi bagian dari masjid dan belum berdiri sebagai lembaga formal. Pada tahun 859, Dinasti Fatimiyah di Maroko disebut mengembangkan Madrasah al-Karaounine, yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Lulusan madrasah disebut memperoleh ijazah.

Setelah itu, madrasah menyebar ke berbagai wilayah peradaban Islam, termasuk lahirnya Universitas al-Azhar di Kairo. Kekhalifahan Seljuk juga disebut membangun madrasah di seluruh Timur Tengah. Konsep pendidikan ini kemudian diperkenalkan di Spanyol dan menyebar ke Eropa, termasuk praktik pemberian gelar atau ijazah yang disebut kemudian digunakan di dunia Barat.

  • Fotografi: kajian kamera lubang jarum Ibn al-Haytham
  • Kopi: populer di Yaman dan menyebar lewat Utsmaniyah
  • Marching band: tradisi militer Janissary
  • Aljabar: dirumuskan al-Khawarizmi untuk pemecahan masalah nyata
  • Pendidikan: masjid dan madrasah sebagai pusat pembelajaran, termasuk konsep ijazah