Masjid Jogokariyan: Inspirasi Pengembangan Ekonomi Syariah Berbasis Komunitas
Fakta Baru - YOGYAKARTA – Model pengelolaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta sering jadi bahan obrolan, bukan cuma karena kegiatan ibadahnya yang ramai, tapi juga karena cara masjid ini dikelola terasa hidup dan dekat dengan jamaah.
Masjid bukan sekadar tempat salat, tapi juga ruang kumpul, belajar, hingga tempat berbagi solusi untuk warga sekitar.
Dari sisi keagamaan, aktivitasnya nyaris tak pernah sepi—kajian rutin, program Ramadan, hingga pembinaan anak muda berjalan terjadwal dan konsisten.
Di ranah sosial, masjid aktif membantu warga yang membutuhkan lewat berbagai program bantuan dan pemberdayaan.
Menariknya lagi, aspek ekonomi juga ikut disentuh, mulai dari dukungan untuk UMKM hingga pengelolaan dana umat yang transparan dan produktif.
Tak heran kalau model seperti ini mendapat banyak respons positif. Bagi banyak orang, Masjid Jogokariyan dinilai berhasil menunjukkan bahwa masjid bisa menjadi pusat peradaban kecil yang dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut model pengelolaan Masjid Jogokariyan yang dirintis almarhum Muhammad Jazir ASP menjadi inspirasi pengembangan ekonomi syariah berbasis komunitas.
"Almarhum membuktikan bahwa ekonomi syariah tidak hanya hidup dalam buku dan regulasi, tetapi dapat bertumbuh nyata di tengah masyarakat melalui masjid," kata Ketua Umum MES DIY Edy Suandi Hamid saat penganugerahan penghargaan kepada almarhum di Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Yogyakarta, Jumat (28/2).
Edy menuturkan salah satu warisan penting Ustadz Jazir adalah penerapan tata kelola keuangan masjid yang transparan dan amanah.
Laporan keuangan masjid, kata dia, disampaikan secara terbuka kepada jamaah sehingga mendorong tumbuhnya kepercayaan dan meningkatkan partisipasi umat.
Ia menambahkan, almarhum juga memperkenalkan prinsip pengelolaan dana infak agar tidak mengendap tanpa manfaat.
"Dana harus bergerak, berputar, dan memberdayakan umat. Dana infak harus kembali kepada jamaah dalam bentuk program nyata yang dibutuhkan umat," ucap Edy.
Dari prinsip tersebut, almarhum mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, antara lain ATM beras bagi warga kurang mampu.
Berikutnya, bazar dan pasar Ramadhan untuk menggerakkan UMKM jamaah, usaha katering komunitas, hingga pengembangan wakaf progresif.




