Menjaga Tradisi dan Identitas Cina Benteng di Pasar Lama Tangerang
Sumber Foto: Parboaboa
Sosial

Menjaga Tradisi dan Identitas Cina Benteng di Pasar Lama Tangerang

PARBOABOA, Tangerang - Pagi baru saja beranjak di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Matahari menyusup di sela atap rumah tua yang catnya mulai pudar dan memantul di genangan air bekas hujan semalam, lalu menyinari deretan kios yang sudah dipenuhi pembeli.

Aroma bakcang yang baru diangkat dari kukusan bercampur dengan wangi hio dari klenteng tua, menguar lembut di antara keramaian. Suara tawar-menawar daging, sayur, dan beragam dagangan lain bersahutan dengan denting peralatan pemotong daging, membentuk irama khas pagi yang nyaris tak pernah benar-benar berhenti.

Di sinilah kehidupan masyarakat Cina Benteng berdenyut—di antara riuh pasar, ingatan sejarah, dan usaha keras menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.Bagi sebagian orang Tangerang, bahkan masyarakat Indonesia umumnya, Cina Benteng hanyalah istilah yang terdengar akrab namun sering kali tak benar-benar dipahami.

Padahal komunitas ini telah berakar ratusan tahun di tepian Sungai Cisadane dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Kota Tangerang, yang sejak abad ke-17 dikenal sebagai kawasan “Benteng” karena keberadaan benteng pertahanan VOC di sepanjang sungai tersebut.

Kehidupan Cina Benteng Hari Ini

Di atas meja kayu yang warnanya mulai memudar, tersusun rapi ayam-ayam kampung segar. Di belakang meja itu berdiri seorang perempuan berwajah teduh, rambutnya disanggul sederhana, mengenakan kaos oblong. Kepada crew Parboaboa, ia memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Anyo.

“Setiap hari saya jual ayam di sini. Sudah sejak usia 18 tahun saya jalanin pekerajan ini,” ungkapnya sambil merapikan meja jualannya.

Anyo tampak sigap melayani pembeli yang silih berganti datang ke lapaknya. Di antara deretan ayam kampung yang tersusun rapi, ia dengan ramah menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang berhenti menawar.

Anyo menjelaskan, harga per ekor ayam kampung ia jual 60.000. Bagi para pelanggannya, harga tersebut sepadan dengan kualitas yang ditawarkan. Terlebih menjelang perayaan Imlek, lapaknya hampir tak pernah sepi. Biasanya, jelas Anyo saat menjelang Imlek, pembeli selalu ramai karena banyak orang membutuhkan ayam untuk acara keluarga dan sembahyang.

“Ayam-ayam yang saya jual ini saya beli langsung dari warga kampung, jadi kualitasnya bagus dan masih segar,” ungkapnya.

Ibu Anyo adalah salah satu perempuan Cina Benteng yang lahir dan besar di tepian Sungai Cisadane. Sejak kecil, ia akrab dengan kisah leluhurnya yang datang ratusan tahun lalu dan menetap di tanah Tangerang.

“Jangan sampai kita lupa dari mana kita berasal, tetapi juga jangan lupa di mana kita berpijak,” jelas Anyo, mengenang pesan mendiang neneknya.

Pesan itulah yang ia pegang hingga kini. Untuk merawat warisan leluhur, ibu tiga anak ini berkisah bahwa setiap subuh, sebelum ayam-ayamnya dibawa ke pasar, ia selalu menyalakan hio kecil di altar sederhana di rumahnya.

Perempuan bermarga Lao ini bercerita, setiap pagi sebelum matahari benar-benar tinggi, itu telah terjaga. Ia melangkah pelan menuju sudut rumah tempat meja kayu tua yang warna kayunya yang mulai memudar. Di atasnya terbingkai foto hitam-putih kakek dan neneknya, berdiri tegak.

Ia menata secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis, dan pada hari-hari tertentu, meletakkan sepiring kecil kue keranjang—bukan sekadar sajian, melainkan bahasa sunyi penghormatan yang diwariskan turun-temurun.

Sebelum memulai kesibukan berdagang, ia selalu berhenti sejenak. Dengan kepala sedikit tertunduk dan kedua tangan terkatup, doa-doa lirih mengalir tanpa suara. Dalam diam itu tersimpan harapan yang sederhana namun kukuh: semoga dagangannya laris, rezeki mengalir lancar, serta keluarganya dijauhkan dari sakit dan mara bahaya.

Sambil memotong ayam untuk pelanggan, ia melanjutkan cerita tentang tradisi Cina Benteng yang masih ia dan keluarganya jalankan hingga sekarang. Di antaranya perayaan Peh Cun ("mendayung perahu naga") di sungai dan Cap Go Meh (perayaan hari ke-15 dan penutup dari rangkaian Tahun Baru Imlek) dengan arak-arakan barongsai yang meriah.

“Kami juga tetap mengunakan kebaya encim yang dijahit tangan. Kebaya ini bagian penting dalam tradisi pernikahan karena memadukan budaya Tionghoa dan Betawi, Termasuk mempertahankan musik gambang kromong” jelas Anyo.

Meski zaman terus berubah, Ibu Anyo berusaha menjaga warisan itu dengan caranya sendiri. Selain mengajak anak-anaknya hadir di setiap perayaan, ia juga mengajarkan mereka berbahasa campuran khas Cina Benteng—perpaduan Hokkien, Melayu, dan Betawi.

“Saat Imlek tiba, biasanya memasak ayam kampung rebus utuh sebagai simbol keutuhan keluarga. Saat Ceng Beng, saya selalu mengajak keluarga membersihkan makam leluhur.”

Tradisi Ceng Beng (ziarah kubur) masyarakat Tionghoa di Tangerang utamanya dipusatkan di TPU Tanah Cepe dan TPU Tanah Gocap, Karawaci, Kota Tangerang, Banten. Sudah menjadi kebiasaan keluarga Anyo, di setiap imlek dengan segala keterbatasannya, ia selalu memberi angpao untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Baginya, itu bukan sekadar berbagi rezeki, tetapi juga cara melatih anak-anaknya bersosialisasi dengan warga sekitar.

Anyo menyadari ia tumbuh dan hidup di lingkungan yang sangat beragam dari banyak aspek—suku, agama, dan ras. Karena itu, membangun hubungan baik dengan warga sekitar menjadi hal yang mutlak. Bahkan demi menjaga hubungan itu, hingga kini ia tetap setia membeli ayam kampung dari peternak kecil di kampung-kampung sekitar.

Baginya, merawat tradisi bukan hanya soal upacara, tetapi juga tentang menjaga hubungan dengan sesama, termasuk para peternak dan pelanggan yang berbeda suku dan agama.

Kini, sebagian besar warga Cina Benteng tidak lagi bergantung pada satu jenis mata pencaharian.

Jika dulu mereka dikenal sebagai petani, nelayan, atau buruh kasar, sekarang pilihan ekonominya jauh lebih beragam. Seperti, pedagang dan wirausaha, pengrajin di sektor kreatif seperti seni merajut, pekerja jasa dan sektor informal, serta menjadi duta budaya/pariwisata.

Data sejarah menunjukkan bahwa pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, banyak Tionghoa Benteng bekerja sebagai petani tebu, penyewa lahan, hingga buruh perkebunan di wilayah Tangerang. Jejak itu masih terasa, meski wajah ekonominya telah berubah.

Hal ini dapat dibuktikan melalui arsip kolonial Belanda tentang sistem landrent dan perkebunan partikelir di Tangerang, catatan sensus Hindia Belanda tahun 1860–1930 yang menunjukkan dominasi tenaga kerja Tionghoa di sektor pertanian tebu, serta keberadaan pabrik gula dan lahan tebu di sepanjang Sungai Cisadane.

Selain itu, tradisi lisan masyarakat Tionghoa Benteng, keberadaan kelenteng-kelenteng tua seperti Boen Tek Bio (1684), serta pola permukiman di sekitar bekas lahan partikelir memperkuat fakta bahwa komunitas ini pernah berperan besar sebagai penggarap lahan dan buruh perkebunan pada masa tersebut.

Di Pasar Lama dan sekitarnya, usaha kuliner peranakan menjadi denyut utama kehidupan. Bakmi, laksa Benteng yang khas dengan kuah santan dan aroma ebi, kue tujuh rupa, hingga minuman tradisional bukan sekadar komoditas, melainkan warisan yang dijaga lewat rasa.

Namun perubahan ekonomi tidak selalu berjalan mulus. Urbanisasi, kenaikan harga tanah, dan ekspansi kawasan industri di pesisir Tangerang turut menekan ruang hidup masyarakat lama. Banyak keluarga akhirnya beradaptasi dengan membuka usaha kecil berbasis rumah, termasuk yang dijalankan oleh Ibu Anyo demi mempertahankan penghidupan.

Sementara itu, di halaman Klenteng Boen Tek Bio—klenteng tertua di Tangerang yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-17—Verrell, salah satu pengunjung, memandang identitas budaya bukan sebagai batasan, melainkan peluang.

“Identitas yang kuat dapat menjadi personal branding dan membuat peluang terbuka lebih besar,” jelas siswa kelas XII SMK Buddhi Tangerang ini.

Verrell mengatakan dengan status sebagai generasi Cina Benteng, ia menemukan peluang untuk mengembangkan usaha kreatif berbasis budaya Cina Benteng dengan menggandeng generasi muda untuk memproduksi merchandise, konten digital, dan desain visual yang mengangkat kearifan lokal.

Verrell Chandra saat berdoa di Klenteng Boen Tek Bio,(PARBOABOA/Norben Syukur).

Sebagai siswa SMK jurusan DKV, Verrell menyadari jurusannya bisa dimanfaatkan untuk keterampilan desain grafis, fotografi, dan branding untuk mempromosikan produk melalui media sosial dan marketplace.

“Nah pendekatan ini dapat membuka peluang bisnis yang menjanjikan, tetapi juga membantu melestarikan identitas budaya kami melalui pendekatan visual yang modern dan menarik khusus bagi anak muda,” ungkap pria dengan nama lengkap Verrell Chandra ini.

Meski menyimpan banyak gagasan untuk mengembangkan kegiatan budaya, Verrell sadar belum saatnya semua itu diwujudkan. Saat ini ia masih fokus menuntaskan pendidikannya. Baginya, menyelesaikan studi adalah prioritas utama sebelum melangkah lebih jauh.

Namun keterbatasan waktu bukan berarti ia berdiam diri. Verrell memilih cara yang sederhana tetapi bermakna: hadir dan terlibat aktif dalam berbagai perayaan budaya. Ia rutin mengikuti perayaan Imlek, Cap Go Meh, hingga festival budaya lainnya. Di sanalah ia merasa bisa ambil bagian dalam merawat warisan leluhur.

Kehadirannya pun bukan sekadar meramaikan acara. Verrell kerap turun tangan membantu persiapan. Ia ikut menata dekorasi, memastikan detail ornamen terpasang rapi, hingga mempromosikan kegiatan melalui media sosial agar semakin banyak generasi muda tertarik datang. Baginya, budaya harus dikenalkan dengan cara yang relevan dengan zaman.

Di sela kesibukannya, ia juga menyempatkan diri menelusuri sejarah komunitas Cina Benteng. Ia membaca, berdiskusi, dan menggali cerita dari para sesepuh.

Menurut Verrell, memahami sejarah adalah pintu masuk untuk menumbuhkan rasa cinta. Dari pemahaman itulah muncul keinginan untuk menjaga dan mempertahankan tradisi agar tidak lekang oleh waktu.

“Kalau bukan kita yang muda yang melanjutkan, siapa lagi?” ujarnya.

Sebagai bagian dari masyarakat Tangerang yang multikultural, Verrell tumbuh di lingkungan yang beragam.

“Saya memiliki teman dari berbagai suku dan agama di sekolah. Saya sudah terbiasa dengan keberagaman dan sangat mudah bersosialisasi dengan siapapun yang berbeda,” jelasnya.

Tumbuh di tengah hiruk-pikuk Kota Tangerang yang multikultural membuat Verrell akrab dengan perbedaan sejak kecil. Di sekolah, ia tidak hanya duduk sebangku dengan teman yang berbeda suku dan agama, tetapi juga belajar memahami kebiasaan, cara pandang, hingga tradisi yang tidak selalu sama dengan yang ia kenal di rumah. Baginya, keberagaman bukan sesuatu yang asing—ia adalah bagian dari keseharian.

Sejak SMP, Verrell terbiasa bergaul tanpa sekat. Ia pernah membantu temannya yang beragama Islam menyiapkan acara buka puasa bersama di sekolah. Meski tidak ikut berpuasa, ia dengan antusias mengatur tempat, membagikan takjil, dan menunggu waktu berbuka bersama teman-temannya.

Di kesempatan lain, ia juga menghadiri perayaan Natal di rumah sahabatnya. Ia datang bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai bentuk dukungan dan penghormatan atas keyakinan temannya. Kehadirannya memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persahabatan.

Ketika perayaan budaya Cina Benteng digelar, Verrell sering mengajak teman-temannya yang berasal dari latar belakang berbeda untuk ikut menyaksikan atraksi barongsai, mencicipi kuliner khas, atau memahami makna ritual yang dijalankan.

Ia menjelaskan filosofi di balik tradisi tersebut agar teman-temannya tidak hanya melihatnya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya nilai. Dengan cara itu, ia merasa bisa memperkenalkan warisan budayanya sekaligus membuka ruang dialog.

Sebaliknya, Verrell pun tidak ragu untuk terlibat dalam kegiatan budaya lain. Ia pernah mengenakan pakaian adat Betawi saat acara festival budaya di Sekolah, serta ikut meramaikan perayaan Hari Raya Nyepi di lingkungan temannya yang berasal dari Bali dengan menjaga ketenangan dan menghormati aturan yang berlaku.

Bagi Verrell, pengalaman-pengalaman seperti itu membuatnya semakin sadar bahwa rasa hormat adalah fondasi persatuan.

Melalui interaksi sehari-hari dan keterlibatan langsung dalam berbagai perayaan, Verrell membuktikan bahwa dialog dan sikap terbuka mampu mengikis prasangka. Hubungan yang ia bangun tidak berhenti pada basa-basi, melainkan tumbuh dari kesediaan untuk hadir, mendengar, dan menghargai. Dari situlah rasa kebersamaan terjalin—bukan karena semua orang sama, melainkan karena setiap perbedaan diterima dengan tulus.

“Indonesia itu kuat karena beragam. Justru dengan kita saling mengenal budaya satu sama lain, kita jadi lebih menghargai,” ungkapnya.

Sekitar dua puluh meter dari kios ayam Anyo, setelah melewati satu belokan ke kanan crew Parboaboa, bertemu dengan seseorang yang tampak tenang menyambut setiap tamu yang datang. Rambutnya telah memutih, suaranya lembut namun tegas, dan tatapannya memancarkan kebanggaan. Ia adalah Soey Hong, humas Klenteng Boen Tek Bio.

“Saya ini cuma penjaga cerita,” ujarnya pelan sambil mempersilahkan crew Parboaboa duduk di bagian kanan pintu masuk klenteng.

Sebagai sejarawan informal komunitas Tionghoa Benteng di kawasan Pasar Lama, ia menjelaskan bahwa salah satu peristiwa penting yang membentuk identitas komunitas ini adalah Geger Pecinan tahun 1740 di Batavia, ketika ribuan orang Tionghoa menjadi korban pembantaian. Sebagian yang selamat melarikan diri ke daerah sekitar, termasuk Tangerang, dan membangun kehidupan baru.

“Leluhur kami tidak hanya membawa tradisi dari Tiongkok, tapi juga belajar hidup berdampingan dengan orang Betawi, Sunda, dan Jawa,” jelasnya. “Itulah sebabnya budaya kami berbeda dengan Tionghoa di kota lain.”

Menurutnya, perbedaan itu terlihat dari bahasa, busana, hingga adat pernikahan. Dialek yang digunakan bercampur dengan bahasa Betawi dan Sunda.

“Musik gambang kromong yang memadukan unsur Tionghoa dan Betawi menjadi salah satu simbol akulturasi paling nyata,” ungkap pria yang sering disapa Empek Hong ini.

Soey Hong, humas Klenteng Boen Tek Bio, (Parboaboa/Norben Syukur).

Pagi itu di Boen Tek Bio, umat keluar masuk, menyalakan hio (dupa), menunduk sambil memegang hio lalu meletakanya di tempat-tempat yang sudah disediakan, kemudian membakar kertas sembah (kim chua) di tungku khusus setelah seluruh rangkaian doa selesai.

“Maaf ya, resiko jadi humas,” katanya sambil tertawa kecil saat harus menyapa umat yang datang silih berganti.

Selain Imlek, masyarakat Cina Benteng juga menjalankan Cap Go Meh, Peh Cun (Festival Perahu Naga), serta arak-arakan Gotong Toapekong—ritual dua belas tahunan yang menjadi agenda budaya khas Kota Tangerang.

Dalam tradisi kematian, terdapat peringatan satu tahun wafat dengan penggunaan alat musik tradisional seperti tehyan dan terompet kematian, serta pembakaran replika barang untuk almarhum.

“Tradisi yang kami rawat ini memang bukan untuk kami saja,” katanya. “Kami selalu mengundang warga sekitar, siapa pun, untuk ikut merasakan. Budaya itu harus dibagikan.”

Sejarah Panjang Cina Benteng

Jejak kedatangan orang Cina ke Tangerang tercatat dalam kitab sejarah Sunda Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan).

Dalam naskah itu dikisahkan rombongan kapal yang dipimpin Tjen Tjie Lung atau Halung terdampar sekitar tahun 1407 di muara Sungai Cisadane akibat kerusakan kapal. Peristiwa ini diyakini berlangsung pada masa gelombang pelayaran besar Asia Timur, sezaman dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1405–1433) yang memperkuat jaringan perdagangan maritim di Nusantara.

Rombongan tersebut sedikitnya berjumlah sekitar 100 orang. Mereka menghadap Sanghyang Anggalarang (seorang tokoh berstatus tinggi/penguasa lokal, pemimpin spiritual, atau figur bangsawan) untuk memohon pertolongan, lalu diberi sebidang tanah di pantai utara Jawa sebelah timur Sungai Cisadane—wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Teluk Naga. Dari titik inilah akar komunitas Tionghoa di Tangerang mulai tertanam.

Untuk di ketahui, kampung Teluk Naga terletak di Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Secara geografis, wilayah ini berada di kawasan pesisir utara Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Topografinya relatif datar dengan ketinggian rendah, sehingga sebagian area rentan terhadap banjir rob dan genangan saat musim hujan. Wilayah ini juga dilalui beberapa sungai kecil dan memiliki tambak serta lahan pesisir yang cukup luas.

Dari sisi demografi, Teluk Naga memiliki jumlah penduduk yang cukup padat seiring perkembangan kawasan penyangga Jakarta. Mayoritas penduduknya merupakan suku Betawi dan Banten, dengan keberagaman etnis pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar penduduk berusia produktif, dengan tingkat pendidikan yang didominasi lulusan sekolah menengah. Pertumbuhan penduduk relatif meningkat karena adanya pengembangan perumahan dan kawasan industri di sekitar wilayah tersebut.

Secara ekonomi, masyarakat Kampung Teluk Naga banyak menggantungkan hidup pada sektor perikanan, tambak, perdagangan kecil, serta jasa. Aktivitas nelayan dan budidaya ikan menjadi salah satu sumber penghasilan utama karena letaknya yang berada di pesisir. Selain itu, perkembangan kawasan industri dan properti di Tangerang turut membuka peluang kerja baru bagi warga setempat.

Suasan Pasar Lama Tangerang, (Parboaboa/Norben Syukur).

Sejak abad ke-15, para pedagang Tionghoa memang telah aktif menyusuri jalur perdagangan maritim Nusantara dan menetap di pesisir utara Jawa, termasuk Teluk Naga dan sepanjang aliran Sungai Cisadane. Sungai yang menjadi nadi ekonomi itu menghubungkan pedalaman dengan pesisir, memungkinkan tumbuhnya perkampungan, pasar, dan jaringan niaga yang kelak membentuk komunitas yang solid.

Identitas “Cina Benteng” lahir dari lanskap sejarah tersebut. Istilah ini merujuk pada keberadaan benteng pertahanan di tepi Sungai Cisadane—dikenal sebagai Benteng Makasar—yang membentang dari Pakulonan hingga Tangerang.

Benteng itu didirikan sebagai garis pertahanan untuk melindungi Batavia dari serangan Kesultanan Banten pada abad ke-17. Seiring waktu, sebutan “Benteng” melekat pada wilayah dan warganya, termasuk komunitas Tionghoa yang bermukim di sekitarnya.

Memasuki tahun 1700-an, banyak orang Tionghoa kurang mampu tinggal di luar kawasan benteng, terutama di wilayah utara seperti Sewan dan Kampung Melayu. Sebutan Cina Benteng digunakan oleh masyarakat luar Tangerang, khususnya pada masa VOC, dan perlahan menjadi identitas sosial yang diakui.

Peristiwa Geger Pacinan tahun 1740 di Batavia menjadi titik balik penting. Tragedi pembantaian ribuan orang Tionghoa oleh VOC—yang dalam sejumlah catatan sejarah diperkirakan menewaskan lebih dari 10.000 jiwa—mendorong gelombang pengungsian ke daerah yang lebih aman, termasuk Tangerang.

Sejak saat itu, wilayah sekitar benteng tak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga simbol perlindungan dan kelahiran identitas baru. Orang Tionghoa Benteng, atau yang lebih dikenal dengan Cina Benteng (Ciben), kini merupakan komunitas keturunan Tionghoa yang telah berakar kuat di Tangerang, Provinsi Banten.

Nama “Benteng” merujuk pada sebutan lama Kota Tangerang yang dahulu ditandai oleh berdirinya benteng Belanda di tepian Sungai Cisadane. Dari ruang geografis inilah identitas Ciben tumbuh, menyatu dengan sungai, pasar, dan kampung-kampung tua yang menjadi saksi perjalanan sejarah mereka.

Dalam kesehariannya, Cina Benteng tidak hidup terpisah dari masyarakat sekitar. Mereka berasimilasi dengan komunitas Sunda dan Betawi, menjalin pernikahan lintas budaya, dan membentuk identitas peranakan yang khas. Bahasa Cina tak lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari; dialek Sunda, Betawi, dan Melayu lokal lebih sering terdengar di rumah maupun pasar. Sementara bahasa dan dialek Tionghoa bertahan dalam ruang-ruang sakral seperti klenteng dan ritual adat.

Kehadiran mereka menjadi bukti harmonisasi antara budaya Tionghoa dan kebudayaan lokal Indonesia, melahirkan identitas unik yang tak terpisahkan dari sejarah Tangerang.

Ritual dan Daya Tahan Budaya

Bagi para sesepuh, tradisi bukan sekadar simbol, melainkan fondasi kehidupan. Empek Hong mengenang masa lalu yang sederhana namun sarat makna. “Dulu hidup kami sederhana, tapi tradisi dijalankan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Imlek, bagi masyarakat Cina Benteng, selalu lebih dari sekadar perayaan. “Imlek bagi kita bukan sekadar kembang api atau liburan. Ini hari kita berkumpul, berdoa kepada Thian (Tuhan) dan leluhur, meminta berkah untuk tahun baru,” tegas Empek Hong.

Ritual lain seperti Peh Cun (Toan Ngo), Ceng Beng, dan Cap Go Meh menjadi penanda kesinambungan sejarah komunitas ini. Pada masa Orde Baru (1966–1998), ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi melalui berbagai kebijakan negara, tradisi tetap dijaga meski dilakukan secara tertutup.

Setelah Reformasi 1998 dan dicabutnya pembatasan tersebut—yang ditandai antara lain dengan pengakuan Imlek sebagai hari libur nasional pada 2003—ritual-ritual itu kembali hadir di ruang publik, menegaskan daya tahan budaya Cina Benteng yang bertahan melintasi zaman.

Cina Benteng merupakan komunitas Tionghoa dengan ciri yang khas. Berbeda dari peranakan Tionghoa pada umumnya, sebagian etnis Cina Benteng dikenal berkulit lebih gelap dan bermata tidak sipit—cerminan dari percampuran genetik dan budaya selama berabad-abad dengan masyarakat lokal.

Pelestari budaya Cina Benteng, Oey Tjin Eng, menyebut komunitas ini kerap diidentikkan dengan stereotip orang Tionghoa berkulit gelap, piawai bela diri, dan hidup bersahaja—citra yang tumbuh dari perjalanan panjang sejarah mereka sebagai kelompok pinggiran yang bertahan melalui kerja keras.

Mayoritas Cina Benteng tidak lagi menggunakan bahasa Cina. Mereka berbicara dengan ‘bahasa ibu’ bernuansa lokal Tangerang. Jika sang ibu bersuku Sunda, maka dialek Sunda yang digunakan; jika bersuku Betawi, maka bahasa Betawi yang menjadi bahasa sehari-hari. Identitas bahasa ini mencerminkan kuatnya pengaruh lingkungan dalam pembentukan budaya mereka.

Seperti komunitas Tionghoa lain, Cina Benteng menganut sistem patrilineal. Garis keturunan mengikuti marga ayah. Jika ayah bermarga Li dan ibu bermarga Tan, maka anak akan menggunakan she (marga) Li. Keturunan dari saudara laki-laki ayah dianggap sebagai ‘keluarga dalam’ (satu kakek dan satu marga), sedangkan keluarga dari garis ibu disebut ‘keluarga luar’ (tidak sedarah dan tidak semarga).

Kebudayaan Cina Benteng adalah hasil akulturasi yang dinamis antara budaya Tionghoa dan lokal. Kesenian seperti gambang kromong dan tari Cokek menjadi contoh nyata percampuran tersebut. Gambang kromong, misalnya, berkembang di Batavia dan Tangerang sejak abad ke-18 sebagai musik pengiring lenong, memadukan alat musik Tionghoa seperti sukong, tehyan, dan kongahyan dengan instrumen Betawi.

Dalam praktik keagamaan, mereka merayakan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Sembahyang Kue Onde, Sembahyang Sin Beng, Ceng Beng, serta Toan Ngo atau Peh Cun. Ada pula tradisi menyiapkan hio-lo atau tempat sembahyang ketika ada anggota keluarga yang meninggal—sebuah bentuk penghormatan terhadap leluhur yang terus dijaga hingga kini.

Cina Benteng adalah cermin perjalanan panjang sejarah—tentang migrasi, trauma, akulturasi, dan keteguhan merawat tradisi. Di tepian Cisadane, identitas itu terus hidup, menegaskan bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, melainkan juga tentang daya tahan sebuah komunitas dalam merawat jati diri.