Misteri Kepunahan Massal Great Dying yang Hancurkan 90% Kehidupan Bumi
Sumber Foto: National Geographic Indonesia
Sosial

Misteri Kepunahan Massal Great Dying yang Hancurkan 90% Kehidupan Bumi

Bagaimana kepunahan massal Great Dying mampu memusnahkan 90% kehidupan Bumi?

Nationalgeographic.co.id— Sekitar 66 juta tahun yang lalu pada akhir periode Kapur, dinosaurus punah karena dampak asteroid besar dan aktivitas vulkanik yang terus-menerus terjadi. Bencana ini menyebabkan perubahan iklim ekstrem, kebakaran hutan, dan runtuhnya rantai makanan, memusnahkan 75% kehidupan, termasuk seluruh dinosaurus non-unggas.

Namun, jauh sebelum kepunahan dinosaurus, kepunahan massal yang jauh lebih besar pernah terjadi. Sekitar 252 juta tahun lalu, sebuah peristiwa kepunahan massal yang tak tertandingi mengubah Bumi menjadi dunia yang nyaris tandus. Peristiwa ini dikenal sebagai "The Great Dying" (Kepunahan Besar), atau kepunahan Permian-Trias.

Keruntuhan pada akhir Permian ini hampir saja mengakhiri seluruh kehidupan di Bumi. Sekitar 90 persen spesies di planet ini musnah, termasuk sekitar 96 persen makhluk laut dan 70 persen hewan darat.

Lantas, bagaimana kepunahan massal Great Dying mampu memusnahkan 90% kehidupan Bumi?

Data Batuan

Data batuan dan fosil menunjukkan bahwa skenario mengerikan bagi makhluk hidup terjadi secara bersamaan di darat dan di laut, kata Sam Bowring dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di laman National Geographic. Menurut Bowring, apa pun mekanisme yang diajukan sebagai penyebab kepunahan massal ini tidak bisa hanya terjadi di laut saja atau hanya di daratan saja.

Di mana pun suatu bentuk kehidupan berada saat Great Dying itu terjadi, keadaannya sama sekali tidaklah baik.

Kebakaran hutan yang meluas memainkan peran penting dalam deforestasi cepat pada akhir Permian, kata Shu-zhong Shen, seorang paleontolog di China's Nanjing Institute of Geology and Palaeontology, dengan mengacu pada banyaknya lapisan batuan sedimen dari periode tersebut yang kaya akan arang dan jelaga.

Batuan juga memberikan bukti kuat melalui tanda isotop karbon bahwa lautan mengalami tekanan besar ketika siklus karbon berubah dan kadar oksigen menurun selama peristiwa tersebut.

Fosil organisme laut pada masa kepunahan menunjukkan adanya pergeseran dari spesies normal ke spesies yang lebih mampu bertahan di perairan dengan kadar oksigen rendah, ujar Shen.

Selain itu, makhluk hidup yang selamat dari kepunahan berukuran lebih kecil dibandingkan spesies sebelumnya—fenomena yang dikenal sebagai efek Lilliput, diambil dari nama pulau tempat tinggal manusia kerdil dalam cerita Gulliver’s Travels. Penyusutan ukuran ini sebagian disebabkan oleh rendahnya kadar oksigen, menurut Shen.

Baca Juga: T. rex Muda Mungkin Jadi Biang Kerok Kepunahan Dinosaurus Berukuran Sedang, Kok Bisa?

Halaman:

1 2 3

Tag:

Dinosaurus Kepunahan Massal Kepunahan Dinosaurus The Great Dying

Mutakhir

Populer