Oversharing: Membangun Koneksi atau Mengancam Kesehatan Mental?
Sumber Foto: Kompasiana.com
Lifestyle

Oversharing: Membangun Koneksi atau Mengancam Kesehatan Mental?

Fakta Baru - Enak yaa jadi kamu, kayak ngga punya masalah. Hidup rasanya terus berpihak sama kamu.

Suatu ketika saya mendapat Direct Message seperti itu dari seorang teman di dunia maya. Saya tersenyum membacanya dan mencoba melihat kembali apa saja yang pernah saya bagi di sosial media.

Lalu ketika saya ceritakan pada sahabat yang sudah membersamai saya selama lebih dari 15 tahun, mereka berkata :

Ya, media sosial bagi saya seperti panggung raksasa untuk setiap orang, dan yang menjadi aktor utamanya adalah hidup kita sendiri. Kalau yang saya bagi ternyata membuat orang berpandangan bahwa saya tak punya masalah, ya karena memang itu tujuannya. Saya ingin membagi hal-hal menyenangkan dan kebaikan saja. Untuk apa berbagi hal sedih yang tidak menguntungkan?

Fenomena oversharing yaitu tindakan membagi informasi pribadi secara berlebihan dan tanpa filter memang tak terelakkan bagi siapapun yang sedang bermain di sosial media. Namun kita juga tak boleh menutup mata bahwa ia seperti mata uang dengan dua sisi.

Benarkah Oversharing Bisa Membangun Koneksi dan Empati?

Secara positif, berbagi cerita (dalam porsi yang tepat) dapat membangun relasi sosial yang kuat. Bagi seorang penulis atau blogger seperti saya, berbagi kerentanan (vulnerability) sering kali menjadi jembatan empati yang membuat pembaca merasa tidak sendirian. Sharing juga bisa menjadi alat edukasi dan inspirasi jika konten yang dibagikan memiliki nilai manfaat bagi orang lain.

Tinggal kita saja bagaimana menyaring sendiri mana yang perlu dan tidak perlu untuk dibagikan.

Keamanan dan Distorsi Realita Ketika Kita Oversharing

Nah adapun sisi negatifnya, oversharing mengancam keamanan data pribadi (digital footprint) dan kesehatan mental. Namun, ada satu dampak negatif yang jauh lebih halus namun merusak: tumbuhnya kesombongan yang terbungkus narasi syukur.

Lihat Lyfe Selengkapnya