Pelatihan Bauran Negosiasi Global untuk Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Sumber Foto: Pusat Studi Perdagangan Dunia
Internasional

Pelatihan Bauran Negosiasi Global untuk Diplomasi Sawit Berkelanjutan

Fakta Baru - Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM membuka Pelatihan Bauran Peningkatan Kapasitas Negosiasi Luar Negeri dan Diplomasi terkait Praktik Minyak Sawit Berkelanjutan di Bandung pada 22 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para negosiator dan pembuat kebijakan dengan strategi diplomasi berbasis bukti dalam menghadapi regulasi global yang semakin ketat.

Awal Kejadian

Pelatihan ini digelar bekerja sama dengan FAST Project UNDP Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Acara dibuka oleh Direktur Penelitian Universitas Gadjah Mada, Prof. Mirwan Ushada, yang menekankan pentingnya argumentasi berbasis data dalam forum internasional. Ia menyatakan bahwa posisi kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional harus diperkuat melalui diplomasi berbasis bukti.

Perkembangan

Hari pertama pelatihan dimulai dengan pemaparan oleh Dr. Ditya Agung Nurdianto dari Kementerian Luar Negeri mengenai profil negara mitra dan regulasi pasar sawit dunia. Ia menekankan pentingnya diversifikasi pasar ke negara-negara berkembang untuk mengurangi dampak regulasi ketat di Uni Eropa. Selain itu, Dr. Bandung Sahari dari GAPKI menjelaskan tantangan dalam memenuhi regulasi internasional, seperti EUDR, dan komitmen industri kelapa sawit untuk menerapkan praktik berkelanjutan.

Sesi interaktif juga membahas peran pekebun rakyat yang dianggap sebagai bagian dari solusi keberlanjutan global. Perwakilan dari beberapa asosiasi petani menekankan perlunya penguatan kelembagaan dan penerapan prinsip ekonomi sirkular untuk memenuhi tuntutan pasar global. Dian Susanti Soeminta dari PT TÜV Rheinland Indonesia menambahkan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk menyelaraskan standar domestik dengan tuntutan internasional.

Kondisi Terakhir

Pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan strategi diplomasi yang integratif dari para peserta yang berasal dari tujuh kementerian dan lembaga. Fokusnya adalah pada pembangunan diplomasi sains berbasis kedaulatan data, perluasan jejaring aliansi internasional, serta penyusunan instrumen perdagangan nasional yang inklusif bagi seluruh pelaku industri sawit di Indonesia.