Pemerintah Kembangkan Teknologi Baru untuk Tangani 80% Masalah Sampah
INDORAYA – Pemerintah menyiapkan berbagai teknologi baru untuk mempercepat penanganan sampah nasional. Langkah ini diambil karena metode pengolahan sampah berbasis energi listrik atau waste to energy dinilai baru menyelesaikan sekitar 20 persen persoalan sampah di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan masih ada sekitar 80 persen masalah sampah yang perlu ditangani dengan pendekatan lain.
“Kalau waste to energy itu jalan semua di 33 kota, itu baru 20 persen masalah sampah selesai. Masih ada 80 persen lagi yang belum bisa kita selesaikan,” kata Zulhas dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (23/2).
Zulhas menegaskan pemerintah memandang persoalan sampah sebagai isu mendesak. Sejumlah rapat telah digelar setelah arahan Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi darurat sampah nasional.
Program waste to energy melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) tetap dilanjutkan di 33 kota. Untuk wilayah Jakarta, fasilitas tersebut direncanakan berada di beberapa lokasi, termasuk di kawasan Bantargebang dan Sunter.
Namun pemerintah menilai pendekatan itu belum cukup menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Karena itu, pemerintah menyiapkan pengembangan teknologi pengolahan sampah dalam empat kategori, yaitu Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) non-refuse derived fuel (RDF), TPST berbasis RDF, Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), serta pengolahan sampah organik dari sumber atau tingkat masyarakat.
Zulhas mengatakan pengembangan teknologi tersebut akan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Kementerian Lingkungan Hidup untuk merumuskan alat dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Kata kunci SEO: teknologi pengolahan sampah Indonesia, Zulhas soal sampah nasional, waste to energy Indonesia, solusi sampah pemerintah, teknologi TPST RDF TPS3R.




