Pendidikan Lingkungan Berbasis Pengalaman untuk Kesadaran Ramah Lingkungan
Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan lingkungan telah berhenti menjadi sekadar gerakan dan telah menjadi kebutuhan mendesak. Mulai dari perubahan iklim dan polusi sampah plastik hingga penipisan sumber daya alam, isu-isu lingkungan secara langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Realitanya, sebagian besar kegiatan lingkungan masih berfokus pada kampanye jangka pendek, sementara membentuk kebiasaan hidup ramah lingkungan membutuhkan proses pendidikan jangka panjang. Itulah mengapa banyak model pendidikan masyarakat berupaya mengubah hal-hal dari akarnya: kesadaran.
Didirikan pada tahun 2019 sebagai inisiatif pendidikan nirlaba, D Free Learning (DFL), yang juga dikenal sebagai Gentle Classroom, beroperasi sebagai ruang belajar terbuka yang berfokus pada pengembangan pemikiran kritis dan tanggung jawab sosial pada peserta didik.
Mewakili kelompok tersebut, Dang Thi Thao – Kepala Komunikasi – menyampaikan bahwa, dengan pendekatan yang diusung kelompok ini, pendidikan bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi sebuah perjalanan berkelanjutan yang berkontribusi dalam memupuk karakter.
Perlu dicatat, kelas ini tidak bertujuan untuk langsung menerapkan proyek lingkungan berskala besar. Sebaliknya, kelompok ini telah memilih pendekatan yang lebih berkelanjutan: secara langsung memengaruhi pola pikir setiap siswa.
Seiring individu secara bertahap mengembangkan kebiasaan hidup yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, efek domino akan terjadi secara alami dan berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan realitas penting pendidikan lingkungan saat ini: Tindakan hanya akan berkelanjutan jika dibangun di atas fondasi kesadaran yang benar.
Menurut Dang Thi Thao, salah satu tantangan utama pendidikan lingkungan, khususnya bagi anak-anak, adalah kesenjangan antara informasi dan pengalaman dunia nyata. Dalam konteks saat ini, siswa dapat dengan mudah mengakses konten tentang perubahan iklim atau polusi plastik melalui media sosial. Namun, sebagian besar informasi ini bersifat peringatan dan tidak membantu mereka mengenali hubungan langsung antara konsep-konsep ini dan kehidupan sehari-hari mereka.
"Banyak siswa tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah, tetapi mereka tidak memahami siklus hidup sampah. Mereka banyak mendengar tentang perubahan iklim, tetapi mereka belum memahami dampak yang dapat ditimbulkan oleh perilaku konsumsi individu," kata seorang perwakilan dari kelompok tersebut. Kesenjangan kesadaran ini terkadang menyebabkan pendidikan lingkungan tetap terbatas pada slogan-slogan yang sudah dikenal, kurang mendalam dan kurang memiliki penerapan praktis yang diperlukan.
Belajar melalui pengalaman
Untuk mengatasi tantangan ini, kelas tersebut memilih pengalaman belajar praktis melalui kunjungan ke sekolah-sekolah terpencil di provinsi Tuyen Quang – tempat-tempat di mana kondisi belajar sulit tetapi menawarkan peluang untuk kegiatan pendidikan yang terhubung dengan kehidupan nyata.
Di daerah Hoang Su Phi, anggota organisasi tersebut berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih sampah bersama siswa setempat, menggabungkannya dengan berbagi pengetahuan tentang pelestarian lingkungan di sekitar sekolah. Alih-alih hanya mendengarkan ceramah, para siswa langsung mengamati dan melakukan tindakan kecil.
Kegiatan lain yang diterapkan di Sekolah Menengah Pertama Asrama Etnis Tan Nam adalah menanam pohon di halaman sekolah. Pengalaman langsung ini membantu siswa memahami bahwa perlindungan lingkungan bukanlah sesuatu yang mustahil, tetapi dimulai dari ruang tempat mereka tinggal.
Para anggota percaya bahwa pengalaman adalah "jembatan" penting yang membantu mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan. Ketika peserta didik terlibat langsung, melakukan sesuatu, dan mengamati hasilnya, pesan tentang lingkungan menjadi kurang abstrak dan lebih mudah dipahami, konkret, dan lebih mudah diingat.
Pada kenyataannya, banyak kegiatan lingkungan masih diimplementasikan sebagai kampanye jangka pendek: hari memungut sampah, minggu penanaman pohon, atau program komunikasi yang terbatas waktu. Kegiatan-kegiatan ini menghasilkan efek positif langsung, tetapi tanpa pendidikan sistematis yang berkelanjutan, dampak jangka panjangnya seringkali terbatas. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan modern secara bertahap bergeser ke arah model "belajar melalui pengalaman" dan "perubahan perilaku", yang berfokus pada keberlanjutan daripada kegiatan berbasis kampanye.
Perwakilan dari Gentle Classroom menyatakan bahwa, di masa mendatang, kelompok tersebut bertujuan untuk memperluas konten pendidikan lingkungan secara lebih sistematis, mengintegrasikannya ke dalam kegiatan rutin alih-alih hanya membatasinya pada perjalanan sukarela.
Bersamaan dengan itu, kegiatan praktis ditingkatkan langsung di dalam kelas, membantu siswa memahami dan mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi sampah plastik, konsumsi yang bertanggung jawab, dan menggunakan kembali material. Jika hanya satu siswa yang memahami mengapa perlu menghemat listrik, membatasi penggunaan plastik sekali pakai, atau menjaga ruang hidup, tindakan kecil ini secara bertahap akan menjadi kebiasaan.




