Pengetahuan Sejati dalam Hindu: Kunci Menuju Kehidupan Bahagia
RRI.CO.ID, Kupang - Ilmu pengetahuan dalam ajaran Hindu tidak dimaknai sekadar sebagai kemampuan rasional memahami dunia yang tampak oleh indera. Pengetahuan sejati atau jnana merupakan kesadaran diri yang mendalam terhadap fenomena alam duniawi (sekala) maupun rohani (niskala), yang menuntun manusia menuju kehidupan yang bahagia dan seimbang.
Pemahaman tersebut disampaikan oleh Pancami T.S Samosir, S.Fil.H., Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT dalam program Mutiara Pagi di RRI Pro 1 Kupang, Rabu, 18 Februari 2026. Dalam materinya bertajuk “Jnana/Pengetahuan Sejati Menuju Kehidupan Bahagia”, ia menjelaskan bahwa dalam Hindu dikenal dua jenis pengetahuan, yakni Aparawidya dan Parawidya.
Aparawidya, kata Pancami, merupakan kesadaran tentang hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam semesta yang bersifat sekala. Sementara Parawidya adalah kesadaran akan hubungan manusia dengan Sang Pencipta yang bersifat niskala.
Keduanya harus berjalan seimbang agar manusia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Ia mengutip sloka Bhagavad Gita IV.34 yang menekankan pentingnya mengejar kebijaksanaan dengan hormat, kerendahan hati, ketekunan bertanya, serta pelayanan kepada guru.
Menurutnya, ada tiga syarat utama dalam proses belajar, yakni pranipatena (hormat dan disiplin kepada guru), pariprasnena (aktif bertanya dan menganalisis), serta sevaya (bhakti dan pelayanan tulus). Proses ini membentuk karakter dan kedewasaan rohani.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih mulia daripada persembahan materi, sebagaimana ditegaskan dalam Bhagavad Gita IV.33. Ilmu pengetahuan menjadi pangkal dari setiap tindakan yang benar.
Tanpa pengetahuan, seseorang diibaratkan seperti bunga yang indah namun tidak beraroma, sebagaimana tersurat dalam ajaran Kakawin Nitisastra. Pancami juga mengingatkan bahwa masa muda merupakan waktu terbaik untuk menuntut ilmu, sebagaimana ditegaskan dalam Sarasamuccaya.
Pada fase brahmacari asrama, umat didorong untuk menimba dharma, artha, dan pengetahuan sebagai bekal kehidupan. Ilmu yang diperoleh harus digunakan untuk tujuan yang baik bagi agama, bangsa, dan negara, serta dilandasi budi pekerti luhur agar tidak menjadi sia-sia.
Menutup pemaparannya, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah “pedang” untuk memotong keraguan dan kebodohan, sebagaimana wejangan Sri Kresna dalam Bhagavad Gita IV.42. Dengan kerja yang benar, disiplin jiwa, dan penguasaan jnana, umat Hindu diajak bangkit melawan awidya atau ketidaktahuan, sehingga mampu menjalani kehidupan yang lebih bijaksana, bermakna, dan berbahagia.




