PETAN JIMAT: Inovasi Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat dari Bantur
Sumber Foto: Malang Posco Media
Lifestyle

PETAN JIMAT: Inovasi Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat dari Bantur

Kabupaten Malang

Berita Lainnya

Modus Tawaran Proyek, Motor Ojol Raib Dibawa Kabur di Pakisaji

8 hours ago

Legenda Rajasa dalam Resonansi Jejak Singhasari

1 day ago

Langganan Juara, Ambisi Taklukkan Kontes di Thailand

1 day ago

Warga Ngajum Ditemukan Meninggal di Sungai

1 day ago

Target Renovasi 500 Rumah Tak Layak Huni

1 day ago

Berita Terbaru

Daycare di Kota Malang Dipantau Pemkot dan Polisi

3 hours ago

Apple Diprediksi Pakai “Penetapan Harga Agresif” untuk iPhone 18 Pro dan Pro Max

3 hours ago

Perosotan Rusak, Dry Fountain Mati, Terus Apa Lagi?

3 hours ago

Cegah Aksi Bunuh Diri, Jembatan Cangar Dipagari Jeruji 2,5 Meter

3 hours ago

Baca Semua

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Tahun 2011 menjadi catatan penting bagi UPT Puskesmas Bantur, Kabupaten Malang. Saat itu, di wilayah kerjanya tercatat 212 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Sebanyak 18 orang di antaranya hidup dalam kondisi terpasung. Stigma bahwa gangguan jiwa adalah aib dan tidak dapat disembuhkan membuat sebagian keluarga memilih mengurung bahkan menelantarkan anggota keluarganya. Masyarakat pun cenderung bersikap acuh.

Berangkat dari realitas itulah, Kepala UPT Puskesmas Bantur, Soebagijono, S.Kep.Ns., M.Kes menggagas pendekatan baru pada 2012. Ia yang pada tahun itu masih menjadi staf, mengubah total paradigma layanan kesehatan jiwa dari berbasis rumah sakit menjadi berbasis komunitas.

-Advertisement-

Lahirnya PETAN JIMAT (Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat) menjadi tonggak perubahan di Kecamatan Bantur. Program ini tidak hanya menjadi inspirasi nasional, namun juga dunia internasional.

“Selama ini pendekatannya hospital based. Kami ubah menjadi community based. Keluarga dan masyarakat adalah aktor utama, sedangkan kami tenaga kesehatan hanya fasilitator teknis medis,” kata Soebagijono, S.Kep.Ns., M.Kes., kepada Malang Posco Media.

-Advertisement-

Konsep ini menekankan deteksi dini, pendampingan pengobatan, penghapusan stigma, hingga penciptaan lingkungan sosial yang kondusif bagi pemulihan ODGJ. Implementasinya dilakukan melalui tujuh langkah utama, mulai dari sosialisasi kesehatan jiwa, pembentukan 35 kader kesehatan jiwa, pembentukan lima posyandu jiwa, workshop deteksi dini, pembukaan poli jiwa di puskesmas, pembentukan bengkel kerja rehabilitasi sosial-produktif, hingga layanan home care bagi pasien yang tidak mampu mengakses layanan langsung.

Posyandu jiwa mengadopsi sistem lima meja seperti posyandu balita dengan tambahan terapi aktivitas kelompok. Sementara bengkel kerja menjadi ruang rehabilitasi sosial yang membantu pasien mengembangkan keterampilan sekaligus membangun kembali rasa percaya diri.

Hasilnya nyata. Sejak 2012, wilayah kerja Puskesmas Bantur dinyatakan bebas pasung dan tidak ditemukan lagi kasus pemasungan.

Keberhasilan ini mendapat pengakuan luas. Pada 2013, inovasi tersebut memperoleh penghargaan Bintang Satyalencana Kebhaktian Sosial dari Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun berikutnya, tim Puskesmas Bantur diundang mempresentasikan programnya di Gedung Sujudi Jakarta oleh Menteri Kesehatan saat itu, Nila Moeloek. Penghargaan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Malang dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada masa Soekarwo.

Terbaru, pada 2023, Bupati Malang HM Sanusi kembali memberikan apresiasi sebagai salah satu pelayanan kesehatan jiwa terbaik. Bahkan program ini pernah diminta menjadi percontohan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Selain sering diliput media nasional, beberapa perwakilan negara-negara tetangga, seperti dari Malaysia, Thailand dan Philipina datang ke Bantur. Termasuk tamu dari Inggris, China dan Jerman sudah berkunjung ke Puskesmas Bantur terkait program tersebut.

Tak hanya kesehatan jiwa, Puskesmas Bantur juga memiliki inovasi lain yakni Gardu Bisma (Gerakan Terpadu Basmi Malaria). Program ini lahir karena wilayah Bantur memiliki potensi breeding place malaria, salah satunya di kawasan wisata Pantai Balekambang. Melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat, beberapa tahun terakhir wilayah tersebut tercatat zero kasus malaria, sekaligus mendukung capaian eliminasi malaria di Kabupaten Malang.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan. Pemerintah desa, kecamatan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, rumah sakit rujukan, kader, tokoh masyarakat hingga LSM terlibat aktif. Monitoring dilakukan melalui evaluasi rutin bulanan, laporan home care, lokakarya lintas program dan lintas sektor, serta pengukuran tingkat kemandirian pasien.

Menurut Soebagijono, tantangan kesehatan jiwa ke depan justru semakin kompleks. Tekanan ekonomi, globalisasi, serta derasnya arus media sosial meningkatkan tingkat stres masyarakat.

“Prevalensi masalah jiwa meningkat. Ini harus menjadi perhatian serius seluruh puskesmas,” ujarnya. Ia berharap seluruh puskesmas di Kabupaten Malang mampu mengembangkan minimal satu inovasi unggulan, khususnya di bidang kesehatan jiwa yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Dari Bantur, sebuah kecamatan di selatan Kabupaten Malang, lahir gerakan sosial yang membuktikan bahwa pendekatan humanis berbasis keluarga dan masyarakat bukan hanya mampu menyembuhkan pasien, tetapi juga memulihkan martabat. (bua/van)

-Advertisement-