Prabowo dan Diplomasi Board of Peace: Menyusun Narasi untuk Palestina
Sumber Foto: Kompasiana.com
Internasional

Prabowo dan Diplomasi Board of Peace: Menyusun Narasi untuk Palestina

Dalam diskursus politik internasional, kebijakan luar negeri sering dianggap sebagai cerminan dari kepentingan nasional yang objektif. Namun, melalui kacamata post-strukturalisme, khususnya teori diskursus Ernesto Laclau, kita bisa memahami kebijakan luar negeri sebagai sebuah arena kontestasi makna.

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan menteri luar negeri, akademisi, dan sebelumnya dengan organisasi-organisasi massa Islam (seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah), merupakan sebuah upaya sistematis untuk membangun hegemoni naratif di tingkat domestik terhadap partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BOP).

Secara teoretis, keterlibatan Indonesia dalam BOP dapat dibaca sebagai sebuah empty signifier (penanda kosong). Istilah "Perdamaian di Gaza" atau " Dewan Perdamaian" pada dasarnya adalah konsep yang cair dan masih selalu diperebutkan maknanya oleh berbagai aktor, seperti Amerika Serikat (AS)di bawah Trump, Israel, Indonesia hingga negara-negara Islam.

Di dalam negeri, muncul kecurigaan bahwa BOP hanyalah "perangkap" diplomatik yang bisa mengaburkan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Di sinilah Presiden Prabowo memainkan peran sebagai aktor artikulatoris.

Konsensus Domestik

Laclau menjelaskan bahwa identitas politik terbentuk melalui "logika ekuivalensi." Prabowo menyadari adanya potensi fragmentasi diskursus di dalam negeri. Kelompok Islam menekankan pada solidaritas teologis dan kemanusiaan, sementara kelompok diplomatik menekankan pada prosedur multilateral dan hukum internasional.

Pertemuan dengan ormas-ormas Islam beberapa waktu lalu bertujuan untuk menarik garis ekuivalensi bahwa keterlibatan Indonesia dalam BOP tidaklah mengkhianati amanat konstitusi. Kepada kelompok Islam, narasinya adalah "penyelamatan nyawa rakyat Palestina."

Sementara itu, dalam pertemuan dengan para pakar diplomasi (seperti Dino Patti Djalal dan Alwi Shihab), narasi yang dibangun adalah "pragmatisme yang terukur."

Dengan mengumpulkan para tokoh ini, Prabowo sedang menjahit elemen-elemen yang berbeda (seringkali kontradiktif antara idealisme dan realisme) menjadi satu rantai ekuivalensi: bahwa diplomasi Indonesia melalui BOP adalah satu-satunya instrumen logis pada saat ini untuk mencapai tujuan akhir yang sama, yaitu kemerdekaan Palestina.