Prof. Dr. Sukiman Serukan Perbaikan Alam dan Kehidupan Berbasis Nilai Qur'ani
Fakta Baru - RRI.CO.ID, Takengon: Momentum Ramadhan pasca bencana hidrometeorologi di dataran tinggi Gayo menjadi ruang refleksi mendalam bagi masyarakat. Dalam kegiatan Safari Ramadhan yang digelar Musara Gayo Sumatera Utara, Prof. Dr. Sukiman, M.Ag, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), mengangkat tema besar tentang konsep memperbaiki alam dan kehidupan dengan kembali kepada nilai-nilai Ilahiyah dan kearifan lokal.
Dalam tausiyahnya, Prof. Sukiman menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga menjadi cermin hubungan manusia dengan lingkungannya. Menurutnya, memperbaiki alam harus dimulai dengan memperbaiki akhlak dan spiritualitas umat.
“Dekatkan umat ini ke Al-Qur’an, karena Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah, tetapi juga kitab peradaban dan pedoman menjaga keseimbangan alam,” ujarnya di hadapan jamaah yang memadati masjid setempat.
Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali memakmurkan masjid, terutama di bulan suci Ramadhan. Masjid, katanya, bukan hanya tempat ritual, melainkan pusat pendidikan, musyawarah, dan penguatan solidaritas sosial.
“Dekatkan umat ini ke masjid, karena dari masjid lahir kepedulian, lahir gerakan gotong royong, dan lahir kesadaran menjaga lingkungan,” tambahnya.
Selain itu, Prof. Sukiman menekankan pentingnya mendekatkan umat kepada para ulama sebagai penjaga moral dan penuntun arah kehidupan. Ulama, menurutnya, berperan dalam membimbing masyarakat agar tidak tercerabut dari nilai-nilai agama di tengah arus modernisasi. Ia juga menyinggung pentingnya memahami Asmaul Husna sebagai jalan ilmu laduni—ilmu yang menumbuhkan kesadaran batin dan kepekaan spiritual—agar manusia mampu memaknai setiap peristiwa sebagai bagian dari skenario Ilahi yang harus direspons dengan hikmah.
Yang menarik, dalam ceramahnya ia turut mengangkat kearifan lokal masyarakat Gayo, yakni sistem adat “Kejurun Belang” sebagai warisan nilai ekologis dan sosial. Kejurun Belang dipandang sebagai simbol kepemimpinan adat dalam mengatur tata kelola pertanian, air, dan kebersamaan masyarakat.
“Dekatkan umat ini pada kearifan lokal. Jangan tinggalkan adat yang selaras dengan syariat. Kejurun Belang adalah bukti bahwa leluhur kita sudah mengajarkan harmoni antara manusia dan alam,” jelasnya.
Kegiatan Safari Ramadhan ini menjadi penguat spiritual masyarakat Gayo di tengah proses pemulihan pasca bencana. Ramadhan, menurut Prof. Sukiman, adalah madrasah untuk membersihkan hati, memperbaiki relasi sosial, sekaligus memperbarui komitmen menjaga alam sebagai amanah Allah SWT. Ia berharap sinergi antara nilai Al-Qur’an, peran masjid, bimbingan ulama, penghayatan Asmaul Husna, dan kearifan lokal dapat menjadi fondasi kebangkitan umat.
Melalui ceramah tersebut, masyarakat diajak tidak hanya bangkit secara fisik dari dampak bencana, tetapi juga bangkit secara spiritual dan sosial. Ramadhan di Gayo pun menjadi momentum mempererat persaudaraan, memperkuat keimanan, serta menata kembali kehidupan yang lebih selaras dengan ajaran agama dan warisan budaya.




