Ramadan: Momen Latihan Sabar dan Ikhlas di Jalanan
Siang itu mobil yang saya kendarai sedang melaju pelan di lajur kiri, menjaga jarak dengan angkot di depan yang baru saja melaju setelah menurunkan penumpang. Seperti biasa, di dalam kendaraan kami bercakap ringan tentang berbagai hal, termasuk tentang bulan puasa yang segera datang.
Segalanya terasa norma-normal saya, sampai tiba-tiba istri saya yang duduk di sebelah saya terlonjak kaget dengan suara benturan yang terasa dari samping kiri kendaraan.
"Hah? Apaan tuh?!" ujar istri saya.
Sesaat itu saya langsung menyadari ada sepeda motor dengan muatan tumpukan kardus di belakangnya, menyalip dan menyenggol spion bagian kiri. Spontan tangan kanan saya hendak memencet klakson untuk setidaknya memperingatkan pengendara itu, tapi istri saya mencegah.
"Udah, udah, jangan diklakson, biarin aja," ujarnya.
Pengendara sepeda motor itu bahkan nyaris tak terlihat sosoknya dari belakang, tertutup oleh tumpukan kardus yang diikat menggunung tinggi dan melebar ke samping. Bebannya terlihat miring ke kanan, sehingga manuvernya ketika menyalip dari kiri dan memotong ke kanan mengakibatkan senggolan dengan kendaraan saya.
Setelah saya cek, lumayan parah juga lecet di spion kendaraan saya. Tapi pada akhirnya saya mencoba ikhlas dan memaklumi bahwa hal-hal semacam ini memang rawan terjadi di jalanan.
Menjadi lebih sabar dan ikhlas memang menjadi dua hal yang ingin saya tingkatkan dan perbaiki, terutama ketika Ramadan sudah membuka pintunya. Tentunya Ramadan menjadi momen terbaik untuk mencuci hati dan melatih pengendalian diri.




