Refleksi Isra Mi'raj: Salat Sebagai Penyeimbang Hidup Mahasiswa
Humas Universitas
RRI.CO.ID, Malang – Peringatan Isra Mi’raj tidak sekadar menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi termasuk bagi mahasiswa untuk menata kembali arah hidup di tengah tekanan akademik. Salah satu pesan penting adalah peran salat sebagai pengatur ritme kehidupan manusia.
Hal tersebut disampaikan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), I’anatut Thoifah, M.Pd.I. Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan spiritual yang menegaskan pentingnya penguatan diri di tengah krisis.
“Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah SAW berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada pada kondisi paling lemah, Allah justru menguatkannya melalui pendekatan spiritual,” ujar I’anatut Thoifah, Jumat (16/1/2026).
Ia menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Tekanan akademik, kecemasan terhadap masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan akademik atau materi.
“Spiritualitas menjadi sumber ketenangan yang kerap terabaikan,” ucapnya.
I’ana menjelaskan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada ditetapkannya ibadah salat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, salat justru diperintahkan secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj.
“Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara Malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa sentralnya salat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut.
Menurutnya, salat tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan waktu yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu salat membentuk pola hidup yang teratur dan sarat nilai.
“Salat merupakan siklus manajemen waktu yang lengkap plan, do, check, reflect, dan reset,” ujarnya.
Di tengah kesibukan akademik yang padat, salat justru menjadi penyeimbang yang membantu menjaga fokus dan ketenangan, bukan mengurangi produktivitas. Ia menguraikan bahwa setiap waktu salat memiliki makna tersendiri dalam membentuk kesadaran hidup.
“Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup, Dzuhur menjadi jeda evaluasi, Ashar menyadarkan bahwa waktu terbatas, Maghrib sebagai ruang refleksi, dan Isya menjadi momen penyerahan diri sekaligus pemulihan batin,” paparnya.
Bagi mahasiswa, nilai Isra Mi’raj dan salat dinilai memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter. Isra Mi’raj memberikan orientasi bahwa perkuliahan bukan sekadar mengejar indeks prestasi, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang bermakna. Sementara salat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik.
“Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya.
I’ana berpesan agar salat dijadikan kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, salat menjadi pengingat penting untuk tetap berjalan pada nilai yang benar.
“Salat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap dan perilaku dalam nilai-nilai yang penuh keberkahan,” pungkasnya.




