Sejarah Tersembunyi Emas Papua: Temuan yang Menjadi Rahasia Korporasi Sejak 1936
Papua, yang dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, menyimpan sebuah kisah yang belum banyak diketahui publik, terutama terkait dengan penemuan emas di pegunungan Ertsberg. Sejak 1936, penelitian oleh tiga ahli geologi Belanda mengungkapkan adanya kandungan tembaga dan emas yang sangat tinggi di wilayah ini, bahkan melebihi kandungan emas di Witwatersrand, Afrika Selatan.
Dalam bukunya yang berjudul The Incubus of Intervention, Greg Poulgrain mengungkapkan bahwa informasi mengenai kekayaan alam Papua ini disembunyikan dari publik, dengan alasan menjaga kedaulatan Belanda atas wilayah tersebut di tengah ketertarikan negara-negara lain terhadap sumber daya alam Papua.
Sejak awal 1920-an, Belanda telah mengalami tekanan dari negara-negara seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat yang menuntut akses lebih besar ke wilayah Papua. Dalam konteks ini, Belanda menjalin kesepakatan politik dan bisnis dengan ketiga negara tersebut. Salah satu perusahaan yang terlibat adalah Netherlands New Guinea Petroleum Company, di mana salah satu karyawannya, Jean Jacques Dozy, menemukan singkapan bijih emas dan tembaga di pegunungan Papua.
Menariknya, meskipun perusahaan tersebut tampak sepenuhnya milik Belanda, kepemilikannya sebenarnya terdistribusi, dengan 60 persen saham dipegang oleh Standard Oil of California dan Standard Vacuum Oil, yang terkait erat dengan dinasti Rockefeller. Hal ini menciptakan ketegangan antara kepentingan Belanda dan korporasi Amerika Serikat.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Indonesia dan Belanda pada dekade 1950-an dan 1960-an, temuan Dozy tetap dirahasiakan. Ketika AS berperan sebagai mediator dalam konflik ini, mereka tidak memiliki informasi tentang potensi sumber daya alam yang melimpah di Papua. Namun, Freeport Sulphur, bagian dari jaringan bisnis Rockefeller, mulai mencium adanya potensi tambang emas tersebut.
Setelah Belanda menyerahkan Papua kepada Indonesia pada 1962, Freeport sangat khawatir tentang akses mereka ke deposit emas di Ertsberg. Temuan Dozy menunjukkan bahwa pegunungan tersebut menyimpan 33 juta ton bijih tembaga bermutu tinggi. Namun, pemerintah Indonesia di bawah Sukarno mengadopsi kebijakan nasionalis yang membentengi kepentingan asing, termasuk perusahaan-perusahaan besar seperti Freeport.
Poulgrain juga mengisyaratkan bahwa informasi mengenai simpanan emas di Ertsberg sangat tertutup. Bijih tersebut ditambang pada kedalaman antara 3500 hingga 3800 meter, dan dikirim melalui jalur trem sepanjang 1,5 kilometer untuk diolah. Data menunjukkan bahwa sebelum Freeport beroperasi, kandungan tembaga di tambang tersebut diperkirakan 2,5 persen, namun melonjak menjadi 3,5 persen pada 1973.
Jika benar bahwa konsentrat emas di Ertsberg mencapai 15 gram per ton, Freeport akan menjadi salah satu perusahaan tambang emas terbesar di dunia, mengalahkan Witwatersrand yang hanya menghasilkan 7,5 gram per ton. Meskipun informasi ini menyebar di kalangan jaringan Rockefeller, pemerintah AS dan Belanda tidak memiliki akses ke informasi tersebut.
Situasi ini menjelaskan mengapa Freeport berupaya keras untuk menjaga kendali atas hasil tambang dan menolak divestasi saham. Melalui berbagai strategi, Freeport tampaknya berusaha mempertahankan posisinya di Papua, meskipun menghadapi tantangan dari pemerintah Indonesia yang ingin mengamankan kepentingan nasional.
Dengan latar belakang sejarah yang kompleks ini, kisah Papua dan kekayaan alamnya menjadi refleksi dari dinamika geopolitik dan kepentingan korporasi yang saling bertentangan.




