Seni Kontemporer Arya Sudrajat: Refleksi Identitas dan Kehidupan di Jelekong
Sumber Foto: Radar Bandung
Sosial

Seni Kontemporer Arya Sudrajat: Refleksi Identitas dan Kehidupan di Jelekong

RADARBANDUNG.ID, JELEKONG — Seniman asal Kampung Jelekong, Kabupaten Bandung, Arya Sudrajat, menilai seni lukis Jelekong tidak semestinya terus dilekatkan pada stereotip lukisan dekoratif semata.

Melalui praktik seni kontemporer, ia berupaya menghadirkan pembacaan baru atas identitas Jelekong sekaligus merefleksikan persoalan ruang dan kualitas hidup warga Bandung dan sekitarnya.

Arya yang lahir dan tumbuh di lingkungan kampung lukis itu menyadari adanya jarak antara citra Jelekong di mata publik dan realitas sosial yang ia alami sehari-hari.

Menurut dia, label “kampung pelukis pemandangan” telah lama membatasi cara pandang terhadap kemungkinan artistik seniman Jelekong.

“Jelekong sering dilihat hanya sebagai tempat produksi lukisan berulang untuk kebutuhan pasar. Padahal, pengalaman hidup masyarakatnya jauh lebih kompleks,” ujar Arya, Jumat (6/2).

Kesadaran tersebut mendorong Arya menempuh jalur berbeda. Ia mulai mengeksplorasi medium nonkonvensional dan pendekatan konseptual, salah satunya melalui pameran tunggal bertajuk Ngindeuw di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, pada 2020.

“Istilah ngindeuw, yang berarti memungut barang bekas, menjadi kerangka berpikir sekaligus metode berkarya,” katanya.

Dalam pameran tersebut, Arya memanfaatkan kaleng bekas cat yang ia kumpulkan dari lingkungan Jelekong.

Benda-benda itu kemudian diolah menjadi lukisan, patung, dan instalasi, sehingga fungsi awalnya sebagai limbah bergeser menjadi medium refleksi visual dan sosial.

Menurut Arya, penggunaan kaleng bekas bukan sekadar pilihan estetika. Ia tertarik pada jejak penggunaan dan sejarah kecil yang melekat pada setiap benda.

“Saya membaca ulang lingkungan tempat saya hidup melalui bekas sentuhan dan pengalaman yang tertinggal pada benda-benda itu,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi kritik halus terhadap tradisi seni lukis Jelekong yang selama ini identik dengan produksi massal.

Arya tidak menolak tradisi, tetapi menempatkannya sebagai sesuatu yang perlu ditafsir ulang agar tetap relevan dengan konteks zaman.

Perubahan wajah Kota Bandung juga menjadi latar penting dalam karya-karyanya. Sejumlah studi perencanaan wilayah mencatat pembangunan kota lebih dominan bergerak ke wilayah utara, sementara kawasan selatan dan Kabupaten Bandung kerap tertinggal dari sisi infrastruktur dan pelayanan dasar.

Ketimpangan itu, menurut Arya, berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat, mulai dari akses jalan, lingkungan permukiman, hingga ketersediaan ruang publik.

“Banyak wilayah di pinggiran Bandung berkembang cepat, tetapi infrastrukturnya tidak pernah benar-benar siap. Itu memengaruhi cara orang hidup dan bertahan,” katanya.

Penelitian mengenai infrastruktur permukiman di kawasan Bandung Raya menunjukkan lemahnya perencanaan dan serah-terima fasilitas publik turut memperburuk pelayanan warga.

Dampaknya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial, karena memengaruhi rasa aman dan kenyamanan hidup masyarakat.

Kondisi tersebut membentuk sensitivitas artistik Arya.

Ia memandang seni bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kota, melainkan cara membaca relasi antara manusia, benda, dan ruang yang terus berubah.

Melalui karya-karyanya, Arya menghadirkan Jelekong sebagai ruang sosial yang dinamis, bukan sekadar latar romantik lukisan alam.

Ia menempatkan pengalaman urban, limbah, dan perubahan lingkungan sebagai bagian dari narasi visual.

“Seni bisa menjadi cara untuk berhenti sejenak dan melihat ulang apa yang sedang kita alami bersama sebagai warga kota,” ujarnya.