Solidaritas dan Pertemanan: Makna Baru di Kehidupan Mahasantri Khatamun Nabiyyin
Dalam kehidupan mahasiswa hari ini, solidaritas dan pertemanan sering kali mengalami pergeseran makna. Di tengah tuntutan akademik, kompetisi prestasi, dan tekanan untuk mandiri, relasi sosial cenderung dibangun secara fungsional dan sementara. Teman sering dipahami sebagai rekan tugas atau jaringan akademik, sementara solidaritas dipersempit menjadi kerja sama sesaat demi kepentingan tertentu. Dalam kondisi seperti ini, nilai kebersamaan kerap terdengar indah dalam wacana, tetapi rapuh dalam praktik.
Situasi tersebut membuat pengalaman hidup di pesantren mahasiswa menjadi menarik untuk direfleksikan. Pesantren, sebagai ruang komunal, menawarkan pola kehidupan yang berbeda dari kehidupan kampus pada umumnya. Mahasantri tidak hanya berjumpa dalam ruang kelas, tetapi juga hidup bersama dalam keseharian yang panjang dan berulang. Mereka berbagi ruang tidur, jadwal aktivitas, serta ritme hidup yang relatif sama. Dalam konteks ini, relasi sosial tidak bisa bersifat sementara, karena kehidupan bersama menuntut keberlanjutan interaksi.
Pengalaman melakukan observasi dan wawancara di Pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta memperlihatkan bahwa solidaritas dan pertemanan tidak hadir sebagai konsep normatif yang dipaksakan dari luar. Nilai-nilai tersebut justru tumbuh dari pengalaman hidup bersama yang sederhana. Mahasantri menjalani kehidupan yang padat dengan aktivitas akademik dan keagamaan, sehingga kebutuhan akan dukungan sosial menjadi nyata dan konkret. Dari sinilah solidaritas mulai menemukan bentuknya.
Dalam kehidupan sehari-hari, solidaritas di kalangan mahasantri tampak dalam berbagai praktik kecil yang berlangsung secara spontan. Mahasantri saling membantu dalam mengerjakan tugas, berbagi makanan dan perlengkapan sehari-hari, hingga saling menggantikan tugas ketika salah satu sedang kelelahan. Praktik-praktik ini tidak diatur secara formal oleh lembaga pesantren dan tidak disertai sanksi atau penghargaan tertentu. Namun, justru karena tidak bersifat formal, solidaritas tersebut terasa lebih tulus dan mengakar.
Wawancara mendalam dengan mahasantri memperlihatkan bagaimana mereka memaknai tindakan-tindakan tersebut. Beberapa mahasantri menyebut bahwa membantu teman adalah "hal biasa" dan "sudah sewajarnya". Pernyataan ini menarik, karena menunjukkan bahwa solidaritas tidak dipahami sebagai tindakan heroik atau pengorbanan besar, melainkan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Solidaritas dimaknai sebagai kebutuhan sosial yang lahir dari kesadaran bahwa hidup di lingkungan komunal membuat setiap individu saling bergantung.
Pengalaman ini menantang anggapan bahwa solidaritas harus selalu diajarkan secara eksplisit melalui ceramah moral atau aturan tertulis. Di Pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta, solidaritas justru tumbuh melalui praktik hidup bersama yang dijalani secara konsisten. Kehidupan komunal menciptakan kondisi sosial di mana kepedulian terhadap orang lain menjadi sesuatu yang rasional dan masuk akal, bukan sekadar ideal normatif.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori konstruksi sosial atas kenyataan yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial bukanlah sesuatu yang bersifat alamiah atau given, melainkan dikonstruksi melalui interaksi manusia. Realitas tersebut dibentuk melalui proses dialektis yang melibatkan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
Dalam kehidupan mahasantri, solidaritas pertama-tama muncul melalui proses eksternalisasi. Individu mengekspresikan makna kebersamaan melalui tindakan konkret, seperti membantu teman atau berbagi kebutuhan. Tindakan-tindakan ini merupakan pencurahan makna subjektif ke dalam dunia sosial. Pada tahap ini, solidaritas masih bersifat kontekstual dan bergantung pada relasi antarindividu.
Namun, karena tindakan tersebut dilakukan secara berulang dalam kehidupan sehari-hari, solidaritas kemudian mengalami proses objektivasi. Ia tidak lagi dipahami sebagai tindakan individual semata, tetapi menjadi kebiasaan kolektif yang diterima dan diakui bersama. Solidaritas seolah menjadi "aturan tak tertulis" yang mengatur relasi sosial di lingkungan pesantren. Mahasantri baru pun secara perlahan belajar dan menyesuaikan diri dengan pola interaksi tersebut.
Melalui proses internalisasi, kebiasaan solidaritas tersebut kemudian diserap ke dalam kesadaran individu. Mahasantri tidak lagi menjalankan solidaritas karena tekanan sosial atau rasa takut melanggar norma, melainkan karena telah menganggapnya sebagai bagian dari diri mereka. Solidaritas menjadi sesuatu yang dirasa benar dan alamiah. Pada tahap inilah solidaritas berfungsi sebagai realitas sosial yang hidup dan berkelanjutan.
Selain solidaritas, pertemanan juga memiliki makna yang khas dalam kehidupan mahasantri. Berdasarkan pengamatan lapangan, pertemanan di pesantren tidak berhenti pada relasi formal sebagai sesama mahasiswa. Intensitas kebersamaan membuat pertemanan berkembang menjadi relasi yang lebih mendalam dan emosional. Teman menjadi tempat berbagi cerita, kelelahan, bahkan kegelisahan hidup sebagai mahasiswa yang tengah mencari arah dan makna.




