SpaceX Akuisisi xAI, Ciptakan Entitas Teknologi Raksasa Jelang IPO
Liputan6.com, Jakarta - Elon Musk kembali membuat gebrakan besar di dunia bisnis dan teknologi global. Perusahaan roket miliknya, SpaceX, resmi meng- akuisisi perusahaan rintisan kecerdasan buatan xAI, membentuk entitas baru yang digadang-gadang menjadi salah satu kekuatan teknologi terbesar di dunia.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Musk melalui unggahan blog resminya. Ia menyebut penggabungan ini sebagai upaya membangun “mesin inovasi terintegrasi vertikal paling ambisius di Bumi dan luar angkasa”, yang menggabungkan teknologi AI, roket, internet berbasis satelit, dan platform media sosial X, dikutip dari CNBC, Selasa (3/2/2026).
Langkah strategis ini dilakukan seiring persiapan initial public offering (IPO) besar-besaran yang diperkirakan memberikan valuasi hingga USD 1,25 triliun atau Rp 20.959 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.770).
SpaceX Jadi Pengelola Utama Entitas Gabungan
Berdasarkan dokumen publik negara bagian Nevada yang dikutip CNBC, kesepakatan tersebut telah diselesaikan pada 2 Februari, dengan Space Exploration Technologies Corp. (SpaceX) tercatat sebagai “anggota pengelola” dari entitas baru bernama X.AI Holdings.
Transaksi ini menjadi penggabungan terbesar dalam portofolio bisnis Elon Musk, menyatukan dua perusahaan dengan valuasi raksasa di pasar swasta. Tahun lalu, SpaceX membuka penjualan saham sekunder dengan valuasi sekitar USD 800 miliar atau Rp 13.414 triliun, sementara xAI sebelumnya dihargai sekitar USD 230 miliar atau Rp 3.856 triliun dalam putaran pendanaan senilai USD 20 miliar atau Rp 335,35 triliun.
Didukung Investor Global dan Raksasa Teknologi
Putaran pendanaan xAI melibatkan deretan investor kelas dunia, termasuk Nvidia, Cisco Investments, serta investor lama Musk seperti Valor Equity Partners, Fidelity, Qatar Investment Authority, MGX Abu Dhabi, Baron Capital Group, dan Stepstone Group.
Bahkan, Tesla juga ikut berpartisipasi dengan investasi sekitar USD 2 miliar atau Rp 33,5 triliun ke xAI, memperlihatkan sinergi kuat antarperusahaan dalam ekosistem bisnis Musk.
Ambisi AI dari Bumi hingga Luar Angkasa
Dalam visinya, Musk tak sekadar menggabungkan perusahaan, tetapi membangun ekosistem teknologi masa depan. Ia mengungkapkan rencana futuristik berupa pusat data AI di luar angkasa, yang akan memanfaatkan jaringan satelit SpaceX dan Starlink.
SpaceX bahkan telah mengajukan permohonan ke FCC (Komisi Komunikasi Federal AS) untuk meluncurkan hingga 1 juta satelit sebagai bagian dari proyek “pusat data orbital”.
"Dalam 2 hingga 3 tahun ke depan, cara termurah menghasilkan daya komputasi AI akan berada di luar angkasa," tulis Musk.
Potensi Bisnis Besar, Tantangan juga Mengiringi
Meski menjanjikan dari sisi bisnis, penggabungan ini juga menghadapi tantangan serius. xAI tengah disorot regulator internasional terkait penggunaan AI Grok, termasuk isu etika dan keamanan konten digital. Di sisi lain, SpaceX sebagai kontraktor pertahanan AS juga memiliki kontrak pemerintah federal bernilai puluhan miliar dolar, sehingga potensi peninjauan regulasi tetap terbuka.
Dari sisi finansial, laporan Reuters menyebut SpaceX diproyeksikan meraih laba sekitar USD 8 miliar dari pendapatan USD 15-16 miliar pada 2025. Sementara xAI masih dalam fase ekspansi besar dengan kebutuhan investasi infrastruktur yang sangat tinggi untuk bersaing dengan OpenAI dan Google.
Raksasa Baru di Industri Global
Penggabungan SpaceX dan xAI menandai babak baru dalam lanskap industri teknologi dunia. Dengan kombinasi AI, teknologi luar angkasa, internet satelit, dan platform digital, Musk membentuk entitas bisnis yang bukan hanya besar secara valuasi, tetapi juga strategis secara geopolitik dan ekonomi global.
Jika IPO ini terealisasi, entitas gabungan tersebut berpotensi menjadi salah satu perusahaan publik terbesar di dunia, sekaligus memperkuat posisi Elon Musk sebagai salah satu aktor paling berpengaruh dalam ekonomi teknologi global.




