Survei Indikator: Mayor Teddy Indra Wijaya Mendapatkan Kepuasan Tinggi dari Publik
Jakarta, aktual.com – Dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Indikator Politik, Mayor Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, meraih posisi kedua dalam daftar menteri dengan tingkat kepuasan masyarakat tertinggi. Dengan angka kepuasan mencapai 90,1 persen, Mayor Teddy berada di belakang Menteri Agama Nasaruddin Umar yang memperoleh 92,8 persen.
Founder dan Peneliti Utama Indikator, Burhanuddin Muhtadi, mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya tingkat kepuasan publik terhadap Mayor Teddy. Salah satu faktor utama adalah kedekatannya dengan Presiden Prabowo, yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Hal ini membuat Mayor Teddy dipersepsikan sebagai sosok yang mampu menerjemahkan keinginan presiden.
Survei yang dilakukan secara nasional ini berlangsung dari tanggal 16 hingga 21 Januari 2025, melibatkan 1.220 responden dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen. Burhanuddin menambahkan bahwa tingginya apresiasi terhadap Mayor Teddy terutama datang dari kalangan anak muda dan perempuan.
“Mayor Teddy juga dikenal sangat aktif di media sosial, di mana semakin terakses medsos, semakin tinggi apresiasi yang diterimanya,” jelas Burhanuddin.
Selain itu, Mayor Teddy dinilai sebagai menteri yang responsif terhadap keluhan publik yang muncul terhadap kabinet. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa ia dianggap mampu menyinergikan kerja kabinet dengan baik. Burhanuddin mencatat bahwa ketika tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo tinggi, hal tersebut juga memberikan dampak positif terhadap Mayor Teddy dan menteri lainnya.
Dalam survei ini, Mayor Teddy juga tercatat sebagai salah satu menteri dengan kinerja terbaik, menempati urutan kelima setelah Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, serta Nasaruddin Umar.
Burhanuddin menekankan bahwa penilaian kinerja menteri sangat dipengaruhi oleh tingkat pengenalan publik terhadap mereka. “Jika publik tidak mengenal menteri, maka sulit untuk menilai kinerjanya,” tutup Burhanuddin.




