Trump Beri Iran Tenggat 15 Hari untuk Negosiasi Nuklir
Sumber Foto: Tribunnews.com
Internasional

Trump Beri Iran Tenggat 15 Hari untuk Negosiasi Nuklir

Ringkasan Berita:

Trump beri ultimatum Iran negosiasi nuklir dalam 10–15 hari.

Analis nilai diplomasi sekaligus tekanan dan persiapan militer AS.

Iran tolak batasan rudal, namun fleksibel soal pengayaan uranium.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk kembali ke meja perundingan nuklir dalam waktu 10 hingga 15 hari atau menghadapi konsekuensi serius.

Dilansir dari Fox News, pada Juni lalu Trump pernah mengatakan akan memutuskan dalam dua minggu apakah akan menyerang Iran, namun keputusan itu baru diambil dua hari setelah pengumuman.

Pada Kamis (19/2/2026), Trump kembali menetapkan tenggat waktu baru untuk Teheran memulai perundingan.

Tenggat ini menjadi bagian dari babak baru diplomasi nuklir Trump-Iran yang dinilai berisiko tinggi.

Direktur Kebijakan di United Against Nuclear Iran, Jason Brodsky mengatakan kecil kemungkinan negosiasi ini menghasilkan terobosan besar.

Brodsky menilai diplomasi juga bisa berfungsi ganda, yaitu menekan kepemimpinan Iran sekaligus memberi waktu bagi AS menyiapkan aset militer di kawasan.

“Saya rasa ada keragun yang mendalam di pemerintahan Trump bahwa negosiasi ini akan menghasilkan hasil yang dapat diterima. Mereka menggunakan proses diplomatik untuk memperjelas pilihan kepemimpinan Iran dan mengulur waktu guna memastikan kita memiliki aset militer yang sesuai di wilayah tersebut," tutur Brodsky.

Sumber dari Timur Tengah menyebut Teheran memahami risiko perang, tetapi menolak pembatasan terhadap program rudal jarak pendeknya.

“Teheran memahami risiko perang, tetapi mereka tidak dapat menerima pembatasan pada program rudal jarak pendeknya. Para negosiator Iran tidak berwenang melanggar batasan ini," ungkap sumber tersebut.

Kebijakan itu menjadi garis merah yang ditetapkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sehingga para negosiator tidak bisa menyetujui pembatasan tersebut.

Meski begitu, Iran kemungkinan lebih fleksibel dalam pembahasan pengayaan uranium jika pencabutan sanksi internasional termasuk dalam kesepakatan.

Peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies, Behnam Taleblu memperingatkan Iran mungkin hanya menawarkan proposal yang melegitimasi kondisi saat ini tanpa perubahan besar pada program nuklir nya.

Taleblu menilai Iran punya tiga tujuan utama: mencegah serangan militer, melemahkan oposisi dalam negeri, dan mendapatkan stabilitas ekonomi lewat pencabutan sanksi.

“Jenis kesepakatan pertama yang harus kita khawatirkan… mereka mungkin mengajukan perjanjian yang lebih didasarkan pada pemindahan realitas saat ini ke atas kertas. Kesepakatan semacam ini tidak mengharuskan Iran menawarkan apa pun," imbuh Taleblu.